Jakarta – Gelombang demonstrasi di berbagai daerah berujung ricuh dan menelan korban jiwa. Satu orang tewas memicu amarah publik yang meluas hingga ke Makassar dan Kediri.
Tragedi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang prioritas elite politik terhadap keselamatan rakyat.
Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat, Rahmat Ilahi, menyoroti rapuhnya peradaban akibat ketidakpercayaan publik pada elite.
“Di mana prioritas kita sebagai bangsa? Apakah kekuasaan dan ambisi politik, atau menyelamatkan nyawa rakyat?” ujarnya.
Kematian demonstran di Jakarta memicu aksi anarkis. Gedung DPRD Kota Makassar terbakar, pos polisi hangus, dan penjarahan terjadi.
Insiden ini menunjukkan satu nyawa yang hilang dapat memicu konflik sosial yang lebih besar.
Media sosial memperkeruh suasana dengan unggahan video kekerasan yang berulang, menormalisasi tindakan tersebut dan memicu emosi kolektif.
Polisi menghadapi dilema antara menahan massa dengan kekerasan atau membiarkan kerusakan fasilitas publik.
Teori “just war” menekankan bahwa kekerasan hanya sah jika bertujuan jelas, proporsional, dan berasal dari otoritas sah.
“Jika tujuan utamanya menyelamatkan nyawa, negosiasi dan pengendalian situasi lebih penting daripada konfrontasi,” tegas Rahmat Ilahi.
Sejarah mencatat pemimpin seperti Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan memilih menghindari pertumpahan darah.
Menghindari pertumpahan darah adalah kebijaksanaan, bukan kelemahan.
Elite politik dan aparat keamanan harus mengutamakan keselamatan manusia.
Masyarakat juga bertanggung jawab untuk tidak memperburuk konflik dengan mengunggah video kekerasan atau menyebarkan ujaran kebencian.
“Nyawa manusia jauh lebih berharga daripada kursi kekuasaan atau kebanggaan politik,” pungkasnya.












