PADANG- Artificial Intelligence atau AI atau kecerdasan buatan, sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat kini. Apa saja sekarang jenis pekerjaannya, sudah bisa digantikan dengan AI. Salah satunya menulis.

Kepenulisan di dunia jurnalistik juga tak kuasa menolak kehadiran AI untuk membantu membuat konten atau berita. Menjadikan AI sebagai satu kemudahan baru yang menghemat waktu.

Banyak masyarakat, terutama generasi Z saat ini yang malah menjadikan soal penggunaan AI sebagai hal yang lumrah. Beberapa diantaranya malah mengganggap begitulah seharusnya menyelesaikan tulisan, konten ataupun berita.

“Penggunaan AI untuk menulis sudah jadi hal biasa,” kata Mardoni. Walau memang sudah hal biasa, dia pun mengaku tidak terlalu menggunakan AI untuk setiap tugas, karena bagaimanapun kemampuan berpikir tetap harus diasah.

Sementara itu, sutradara teater, Mahatma Muhammad yang juga Pendiri Komunitas Nan Tumpah, menilai menggunakan sepenuhnya AI dalam memproduksi karya jurnalistik hanya akan membuat tulisan wartawan jadi kering.

Dia juga menilai, penggunaan AI pun juga jangan sampai membuat olah pikir manusia tidak ada di sana. Karena penting sebuah produk, terutama jurnalistik, ada pengolahan data di sana. Hingga penggunaan ChatGPT dan sejenisnya pun menjadikan karya jurnalistik itu malah jadi tidak hidup.

“Di sisi lain, tidak sepenuhnya menolak. AI juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kerangka, dalam konteks penulisan,” katanya.

Merdi Sofansyah, wartawan senior, mengatakan di satu kesempatan, penggunaan AI dalam pembuatan konten jurnalistik sah-sah saja, dan bukan sebuah hal yang tabu. Walau begitu, penggunaan AI ini tetap hanya sebatas transkip, ringkas dokumen, ide dan outline.

“Yang tidak boleh, fabrikasi kutipan atau gambar, dan deepfake. Dan, selalu ada editor manusia dalam pengerjaannya,” kata Medi yang mengawali karir sebagai reporter SCTV tahun 1998 ini.

Kini pun Merdi mengaku aktif untuk pembuatan konten digital dengan menggunakan AI, apalagi kini juga pas dengan posisinya sebagai Media Development for AI tvOne AI.

Salah satu aplikasi yang memang berhasil mencuri perhatian di sekian banyak produk AI, yaitu ChatGPT. Dilansir dari Firstpagesage, pangsa pasar chatbot AI generatif per Maret 2025 di posisi teratas ditempati oleh ChatGPT yang menyumbang 59,7% pangsa pasar secara global.

Jumlah pengguna aplikasi AI ini cukup fenomenal. Terhitung pada 2025, tepatnya di bulan Februari, pengguna ChatGPT kian bertambah hingga mencapai 400 juta pengguna, sejak diluncurkan tiga tahun lalu.

Indonesia masuk tiga besar negara dengan pengguna aktif ChatGPT terbanyak di Asia Pasifik, bersama India dan Jepang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa generasi Indonesia saat ini sudah memilih ChatGPT sebagai solusi. Terutama untuk tugas menulis, yang memang tidak semua orang mampu mengerjakannya fasih.

Dengan bermodal data, semuanya bisa dibuat menjadi produk berita yang tersusun demikian rupa lewat aplikasi AI ini. Pekerjaan menulis berita yang biasa menghabiskan satu jam, kini hanya hitungan menit selesai.

Sejumlah wartawan senang, punya aplikasi yang sudah seperti anak buah yang kapan saja bisa diperintah membuat berita. Rapi, bersih dan bisa memuat data sebanyak yang kita punya. Semuanya pun tergantung perintah, seberapa luas cakupannya, demikian pula hasilnya.

Ilona Juwita, Co-Founder CEO dalam kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025 batch 2, Rabu (24/9), mengatakan, pembuatan konten dari segi ideasi hingga produksi adalah penggunaan yang cukup popular.

Hal ini didorong oleh kehadiran awal
dan adopsi yang cukup mudah dari
penggunaan platform seperti ChatGPT, Copy.ai, dan Gemini.

Walau demikian, penggunaan AI untuk menulis berita tidak bisa sepenuhnya produk AI. Menurutnya, salah satu akibat dari pembuatan konten full AI, hanya akan merusak website itu sendiri.

“Penggunaan AI sebaiknya hanya sebatas ideasi, pematangan struktur dan riset dan untuk memvalidasi, dan tidak memproduksi secara utuh konten atau berita itu dengan AI,” ujar Ilona.

Malah menurut Ilona, penggunaan AI bukan lagi untuk membuat konsep tulisan berita atau konten, tapi juga fokus bagaimana mesin pencari AI bisa menemukan konten yang telah dipublikasikan tersebut.

“Konten pun kemudian harus beradaptasi,” lanjut Ilona, seperti misalnya dalam hal menambahkan data yang terstruktur agar Google lebih memahami konten, hingga fokus pada intensi pengguna, bukan hanya kata kunci.

“Masa depan optimasi konten akan melibatkan pembuatan konten yang secara langsung menjawab pertanyaan
pengguna dengan cara yang terstruktur dan informatif, sehingga mudah dicerna dan digunakan oleh sistem pencarian bertenaga AI,” ujarnya.

Dengan semakin banyaknya konten yang diproduksi menggunakan GenAI dan
bertebaran untuk dikonsumsi, kemampuan untuk menerjemahkan konten pada inti sarinya saja menjadi penting.

“Dampaknya untuk marketer adalah target konsumen akan cenderung melewati konten yang sudah dirancang dan diproduksi maksimal hanya untuk dibuatkan poin kesimpulan saja,” katanya. (W)

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.