Payakumbuh – Sengketa lahan Pasar Syarikat Payakumbuh memasuki babak baru setelah Nagori Koto Nan Ompek menyatakan sikap tegas terkait klaim tanah ulayat. Ratusan perwakilan dari berbagai elemen masyarakat berkumpul untuk membahas isu krusial ini.

Dalam Rapat Akbar Anak Nagori Koto Nan Ompek yang berlangsung di Balai Adat Nan Duo, Jumat (9/10/2026), sekitar 200 orang dari unsur Urang Ampek Jinih, termasuk Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, dan Parik Paga Nagari, hadir untuk merumuskan pernyataan sikap. Pertemuan tersebut menghasilkan lima poin utama terkait tanah ulayat Pasar Syarikat Kota Payakumbuh.

Anton Permana membacakan pernyataan sikap tersebut di halaman Balai Adat, menegaskan penolakan terhadap pencatutan nama nagari dalam pengelolaan pasar. Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir dalam rapat tersebut, termasuk Datuak Ka Ompek Suku Dt. Rajo Mantiko Alam, Cadiak Pandai Wendra Yunaldi, Tuo Kampuang Ir. Almaisyar Dt. Bangso Dirajo Nan Kuniang, Guru Adat Dt. Paduko Bosa Nan Kuniang, Dt. Parmato Dirajo Ati Omeh, Sekretaris Tim Penyelesaian Tanah Ulayat Nagari Dt. Simarajo Lelo, Bundo Kanduang Nagari Wulan Denura, mantan Sekretaris KAN Teddy Dt. Mangkuto Simarajo, akademisi Unand Nurul Fajri, dan akademisi UNP Yudi Antomi. Noveri Dt. Bandaro Hitam yang menjabat sebagai Ka Ompek Suku Ompek Niniak hadir secara virtual.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah bahwa sebagian besar tanah tempat berdirinya Pasar Syarikat Kota Payakumbuh merupakan tanah ulayat Nagori Koto Nan Ompek. Tanah tersebut, menurut pernyataan sikap, wajib dijaga dan dilindungi oleh seluruh anak nagari.

Lebih lanjut, Anak Nagari Koto Nan Ompek menyatakan bahwa kesepakatan yang dibuat oleh Pemerintah Kota Payakumbuh bersama oknum Niniak Mamak pada tanggal 5 Januari 2026 lalu adalah kesepakatan sepihak. “Untuk itu, Anak Nagari tegas menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut dianggap tidak pernah ada,” kata Anton Permana saat membacakan pernyataan sikap.

Anak Nagari Koto Nan Ompek juga sepakat dan mendukung terlaksananya Hasil Pleno Niniak Mamak Nagori tanggal 8 Desember 2025, yang mengamanatkan pengurusan sertifikat tanah ulayat ke kantor BPN. Komunikasi terkait tanah ulayat nagari kedepan akan dilakukan satu pintu melalui Tim Aset dan Advokasi yang telah dibentuk.

Peringatan keras juga disampaikan kepada pihak-pihak yang mencoba mencatut nama nagari tanpa melalui proses mufakat atau pleno resmi nagari. “Jika hal ini dilakukan, maka Anak Nagari Koto Nan Ompek akan mengambil tindakan hukum,” tegas Anton Permana.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.