Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong partisipasi aktif umat Islam dalam bisnis berwawasan lingkungan, khususnya dalam perdagangan karbon. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengoptimalkan potensi ekonomi hijau dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Menurut Ketua MUI Bidang Ekonomi, M. Azrul Tanjung, ekonomi hijau membuka peluang bisnis baru yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. “Misalnya wisata hutan, ekowisata, dan carbon trading,” ujarnya saat membuka Rapat Kerja Lembaga Ekonomi Umat (LPEU) dan Penguatan Koperasi pada Rabu (23/12/2025).

Azrul menekankan pentingnya perdagangan karbon karena sudah ada transaksi yang melibatkan pelaku usaha. Ia juga menyoroti dukungan pemerintah Indonesia terhadap perdagangan karbon melalui Bursa Karbon Indonesia dan pasar karbon sukarela (voluntary).

Pemerintah, kata Azrul, secara aktif mendorong perdagangan karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Inisiatif MUI ini sejalan dengan langkah pemerintah yang secara aktif mempromosikan perdagangan karbon sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.

Di sisi lain, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menanggapi kritik terkait penanganan bencana Sumatera dalam konferensi pers (19/12/2025). Ia membantah tudingan bahwa pemerintah bertindak lambat dalam merespons bencana tersebut. Konferensi pers tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri dan Panglima TNI.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.