Jakarta – Gelombang demonstrasi besar melanda Indonesia selama dua hari terakhir, menjadi sorotan sejumlah media asing. Aksi unjuk rasa yang dipicu tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, akibat kecelakaan yang melibatkan mobil rantis Brimob, meluas di berbagai kota.
Kematian Affan disebut memicu akumulasi kekecewaan publik yang lebih luas terkait kondisi sosial, ekonomi, dan politik di dalam negeri.
BBC: Bentrokan dan Pemakaman Affan
Dalam laporannya berjudul Protesters and Police Clash After Death of Taxi Driver in Indonesia, BBC menyoroti tewasnya Affan Kurniawan sebagai pemicu unjuk rasa. Bentrokan dengan polisi terjadi di berbagai kota, termasuk insiden terbakarnya kantor DPRD di Makassar yang menewaskan tiga orang. Polisi menembakkan gas air mata ke arah massa, sementara pengunjuk rasa melempari aparat dengan batu dan kembang api.
BBC juga menyoroti suasana pemakaman Affan yang dihadiri ribuan pengemudi ojol dan sejumlah tokoh publik, termasuk Kapolda Metro Jaya dan mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Presiden Prabowo disebut telah meminta maaf kepada keluarga korban dan mengaku kecewa atas tindakan berlebihan aparat. BBC menilai demonstrasi ini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Prabowo di tengah sorotan publik soal tunjangan pejabat dan tingginya biaya hidup.
Al Jazeera: Akumulasi Kemarahan Masyarakat
Al Jazeera dalam laporannya berjudul Why Are Antigovernment Protests Taking Place in Indonesia? melihat kerusuhan sebagai akumulasi kemarahan masyarakat. Tuntutan demonstran bukan hanya soal kematian Affan, tetapi juga keberatan terhadap kebijakan ekonomi dan politik yang dianggap tidak berpihak.
Tunjangan rumah Rp 50 juta per bulan untuk anggota DPR, yang hampir sepuluh kali lipat dari UMP Jakarta, disebut sebagai bukti jurang antara elite politik dan rakyat.
Selain itu, Al Jazeera menyoroti tuntutan terkait kenaikan upah, beban pajak, hingga inflasi. Aksi ini disebut menjadi ujian terbesar bagi Prabowo sejak dilantik Oktober lalu. Demonstrasi berdampak langsung pada pasar keuangan, seperti indeks saham yang jatuh dan rupiah yang melemah.
Al Jazeera menutup laporannya dengan menyatakan bahwa langkah Prabowo dalam menangani kasus ini akan menentukan apakah pemerintahannya tetap menjaga jalur demokrasi atau berpotensi berbelok ke arah otoriter.
The Diplomat: Ketidakpuasan Mendalam
Laporan The Diplomat berjudul Indonesian Protesters Clash With Police During Demonstrations Over Parliamentary Perks menyebut bahwa aksi ribuan demonstran di Jakarta merupakan bentuk ketidakpuasan mendalam terhadap arah ekonomi dan politik Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Media yang berbasis di Asia itu menyoroti tewasnya Affan Kurniawan sebagai pemicu protes yang lebih luas. Mereka mengutip enam tuntutan utama massa, mulai dari penghentian outsourcing, pembentukan satgas PHK, hingga reformasi pajak tenaga kerja. Ketimpangan antara gaji anggota parlemen dan rata-rata pendapatan nasional disebut sebagai bukti jurang sosial yang semakin parah.
Bloomberg: Teguran Prabowo dan Dampak Ekonomi
Bloomberg dalam laporannya berjudul Prabowo Criticizes Police as Protest Death Fuels Jakarta Unrest menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto yang menegur keras kepolisian setelah tewasnya Affan Kurniawan. Ia menyatakan “terkejut dan kecewa” atas tindakan brutal aparat, namun tetap meminta publik tenang dan waspada terhadap pihak yang ingin menunggangi kerusuhan.
Ribuan demonstran tetap bertahan di jalan, berhadapan dengan gas air mata, membakar pembatas jalan, hingga meneriakkan “polisi pembunuh” di depan markas besar kepolisian Jakarta. Organisasi mahasiswa menuntut pencopotan Kapolri, sementara kelompok buruh disebut siap melanjutkan aksi hingga tuntutan dipenuhi.
Bloomberg juga menyoroti dampak ekonomi dari peristiwa ini, seperti saham yang anjlok 1,5 persen, rupiah melemah hampir 1 persen, dan imbal hasil obligasi yang naik tajam. Tunjangan rumah Rp 50 juta per bulan untuk anggota DPR menjadi simbol ketidakadilan, apalagi di saat 42 ribu pekerja resmi tercatat kena PHK dalam enam bulan terakhir.
Kevin O’Rourke, pimpinan konsultan Reformasi Information Services yang berbasis di Jakarta, menyebut fenomena ini sebagai masalah serius dan Prabowo dinilai sedang berada dalam “jalur tabrakan” dengan mahasiswa dan investor sekaligus.












