Padang – Ratusan erupsi yang terjadi sepanjang tahun 2025 menjadikan Gunung Marapi sebagai salah satu gunung berapi aktif di Sumatera Barat yang terus dipantau secara ketat. Terletak di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, gunung dengan ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut ini menyimpan potensi bahaya di balik kesuburan tanah dan daya tarik wisata yang ditawarkannya.
Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas beberapa gunung berapi di Indonesia terpantau di atas normal dalam periode Agustus hingga November 2025. Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT ditetapkan pada level Awas (Level IV), sementara Gunung Merapi di DIY-Jateng dan Ili Lewotolok di NTT berada pada level Siaga (Level III). Gunung Semeru, Bromo, Anak Krakatau, Sinabung, dan Rinjani juga berada dalam status Waspada (Level II).
Pada Minggu, 14 Desember 2025, Gunung Marapi kembali menunjukkan aktivitasnya dengan menyemburkan abu vulkanik setinggi 1.200 meter pada pukul 16.37 WIB. “Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah utara,” bunyi laporan dari Pos Gunung Api setempat. Erupsi ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 9,8 milimeter dan durasi sekitar 61 detik.
Gunung Marapi memiliki sejarah panjang erupsi. Pada 8 September 1830, gunung ini mengeluarkan awan berbentuk kembang kol abu-abu kehitaman setinggi 1.500 meter di atas kawah, disertai suara gemuruh. Letusan pada 30 April 1979 menyebabkan 60 orang tewas dan 19 pekerja penyelamat terperangkap tanah longsor. Peningkatan aktivitas gunung juga tercatat pada akhir 2011 hingga awal 2014, dengan letusan yang menyemburkan abu dan awan hitam. Pada 26 Februari 2014, letusan melepaskan material pasir, tefra, dan abu vulkanik ke wilayah Kabupaten Tanah Datar dan Agam, yang menyebabkan status gunung ditetapkan Siaga (level 2).
Erupsi yang terjadi pada 3 Desember 2023 mengakibatkan setidaknya 24 pendaki tewas, dengan abu mencapai ketinggian 3.000 meter dan menyebabkan hujan pasir serta polusi udara. Selain itu, bencana galodo (banjir bandang) pada 11 Mei 2024 di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Marapi menewaskan 63 orang dan menyebabkan 10 orang hilang.
Saat ini, Gunung Marapi masih berstatus Waspada (Level II). PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan, dan pengunjung tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek. Ancaman potensi lahar hujan juga menjadi perhatian utama, terutama bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak gunung api, terutama saat hujan atau musim hujan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan masyarakat, terutama yang tinggal dekat Gunung Marapi, dalam menghadapi potensi erupsi. “Jika gunung meletus, segera lindungi diri dari abu dan awan panas dengan pakaian tertutup, masker/kain, dan kacamata,” imbau BNPB. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari area bahaya, mengikuti arahan petugas, dan menyiapkan logistik evakuasi.
Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi berkelanjutan tentang risiko gunung meletus, tanda-tanda peringatan dini, dan tindakan yang harus diambil saat terjadi erupsi. Edukasi mitigasi bencana, termasuk pemahaman tentang bahaya primer dan sekunder, jalur evakuasi, dan cara melindungi diri, menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif dari erupsi Gunung Marapi.
Dengan pemahaman yang baik tentang tindakan yang harus dilakukan saat erupsi, diharapkan risiko dan dampak negatif dari aktivitas vulkanik Gunung Marapi dapat diminimalkan.











