New York – Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dijadwalkan akan hadir di pengadilan federal New York pada Senin, 5 Januari 2026 pukul 12.00 waktu setempat. Keduanya akan menghadapi dakwaan federal AS terkait dugaan perdagangan narkoba dan kerja sama dengan organisasi teroris, setelah diculik dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan.

Maduro dan Flores tiba di New York pada Sabtu malam dan saat ini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn. Mereka dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba serta berhubungan dengan kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Maduro sendiri membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat di ibu kota Venezuela, Caracas, hingga Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan pemerintah Cina, menyerukan pembebasan pasangan tersebut.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, mengecam tindakan AS sebagai “penculikan pengecut”. Ia juga melaporkan bahwa beberapa pengawal presiden, personel militer, dan warga sipil di pihak Venezuela tewas secara kejam selama operasi penculikan.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Minggu, Padrino Lopez juga mendukung keputusan Mahkamah Agung yang menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai penjabat presiden selama 90 hari. Rodriguez juga menjabat sebagai menteri perminyakan.

Presiden AS Donald Trump mengancam Rodriguez akan membayar “harga yang sangat mahal” jika tidak bekerja sama dengan Washington. “Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump.

Pasukan AS menyerang Caracas pada Sabtu dini hari, membom target militer sebelum menculik Maduro dan istrinya. Presiden Venezuela itu kemudian dikawal keluar dari pesawat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, New York, dan dibawa ke penjara Brooklyn.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.