Pariaman – Festival Hoyak Tabuik Piaman 2025 resmi dimulai pada Jumat (5/7/2024), bertepatan dengan 1 Muharram 1447 Hijriah, ditandai dengan prosesi sakral Maambiak Tanah. Ritual ini menjadi simbol filosofis asal muasal manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah, sekaligus penanda awal rangkaian acara budaya tahunan di Kota Pariaman.

Tradisi Maambiak Tanah dilaksanakan di dua lokasi berbeda. Anak Tabuik Subarang mengambil tanah dari dasar Sungai Batang Piaman di Desa Pauh Timur, sementara anak Tabuik Pasa mengambil tanah dari aliran sungai kecil di Kelurahan Alai Galombang. Keduanya berada di Kecamatan Pariaman Tengah.

Dalam prosesi tersebut, para peserta menyelam ke dasar sungai untuk mengambil segenggam tanah. Tanah yang berhasil didapatkan kemudian dimasukkan ke dalam belangga, dibungkus dengan kain putih, dan diletakkan di atas baki. Dengan diiringi lentera dan obor, tanah itu diarak menuju rumah tabuik masing-masing dan disimpan di Daraga, area khusus untuk menyimpan tanah sakral.

Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, yang turut menyaksikan prosesi tersebut pada Jumat (5/7/2024) menyoroti keunikan lokasi pengambilan tanah yang saling bersilang antara dua kelompok tabuik. “Anak Tabuik Pasa mengambil tanah di wilayah Tabuik Subarang, dan sebaliknya. Ini bentuk simbolis dari persatuan, kebersamaan, dan penghormatan antar keduanya,” jelas Mulyadi.

Mulyadi menegaskan bahwa Tabuik bukan hanya sekadar pesta rakyat tahunan, melainkan juga wadah untuk mempererat kebersamaan masyarakat. “Budaya ini akan terus kita lestarikan dan jaga keasliannya,” tambahnya. Ia juga berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Kota Pariaman, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi lokal. “Kita berharap tahun ini menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat melalui pelestarian budaya,” tutupnya pada Jumat (5/7/2024).

Tuo Tabuik Pasa, Zulbahri, menjelaskan bahwa prosesi Maambiak Tanah merupakan tahapan awal dari serangkaian kegiatan sebelum puncak acara. Ia mengingatkan bahwa makna dari tradisi ini adalah refleksi spiritual bahwa manusia pasti akan kembali kepada tanah, sebagai pengingat akan akhir kehidupan. Zulbahri menambahkan jadwal rangkaian kegiatan selanjutnya meliputi Manabang/Maambiak Batang Pisang pada 5 Muharram, Prosesi Maradai pada 6 Muharram, Turun Panja, Maatam, dan Maarak Jari-jari pada 7 Muharram, Maarak Saroban pada 8 Muharram, hingga puncaknya pada 6 Juli 2025. Puncak acara tersebut akan diisi dengan Tabuik Naiak Pangkek, Hoyak Tabuik Subarang dan Pasa, serta prosesi Tabuik Dibuang ke Laut.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.