Jakarta – Rute baru Light Rail Transit (LRT) Jakarta dari Velodrome, Pulogadung, Jakarta Timur, hingga kawasan Manggarai, ditargetkan beroperasi penuh pada Agustus 2026. Pembangunan jalur sepanjang 5,8 kilometer ini ditargetkan rampung pada Desember 2025.

Direktur Utama PT LRT Jakarta, Roberto Akyuwen, mengungkapkan bahwa rute ini akan memiliki lima stasiun.

“Saat ini sedang pembangunan rute dari Velodrome ke Manggarai. Harapannya itu nanti sudah mendekatkan kami dengan hub di Dukuh Atas,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).

Dengan beroperasinya rute baru ini, jumlah penumpang LRT Jakarta diperkirakan akan meningkat 10 kali lipat. Diproyeksikan, LRT dapat mengangkut 30 ribu hingga 70 ribu penumpang per hari di jalur tersebut.

Tarif untuk rute baru ini ditetapkan sebesar Rp 60 ribu, lebih tinggi dari tarif rute Pegangsaan Dua-Velodrome yang saat ini hanya Rp 5 ribu. Kenaikan tarif ini diharapkan dapat mengurangi subsidi.

“Karena utilisasi kereta lebih tinggi, jadi per penumpang ekonominya sudah jadi Rp 60 ribu. Jadi itu juga mengurangi Rp 55 ribu subsidi. Mudah-mudahan subsidi semakin tipis, dengan catatan laba juga meningkat,” kata Roberto.

LRT Jakarta pertama kali beroperasi pada 1 Desember 2019, sebagai bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jakarta untuk melengkapi transportasi massal di Ibu Kota.

Saat ini, rute LRT Jakarta baru sepanjang 5,8 kilometer dengan enam stasiun, membentang dari Stasiun Penganggaran Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ke Velodrome, Pulogadung, Jakarta Timur. LRT Jakarta memiliki delapan rangkaian yang terdiri dari empat train set, seluruhnya dibuat oleh Hyundai Rotem dari Korea Selatan.

Dalam sekali jalan, kereta ini dapat mengangkut 270 penumpang dengan 15 kursi prioritas. Meskipun demikian, tingkat keterisian penumpang LRT Jakarta saat ini baru 10 persen dari total kapasitas. Dalam setahun, LRT Jakarta baru mampu mengangkut 1,2 juta penumpang.

Meskipun menjadi perusahaan kecil di antara anak usaha PT Jakarta Propertindo (Jakpro), LRT Jakarta berhasil mencatatkan laba kotor sebesar Rp 103 miliar pada tahun 2024, meningkat 1,90 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan LRT tercatat sebesar Rp 265,2 miliar dengan laba usaha Rp 7,8 miliar. Sebagian besar pendapatan masih berasal dari subsidi sebesar 94 persen.

Total aset LRT Jakarta tercatat sebesar Rp 389,9 miliar pada tahun 2024, meningkat 2,22 persen dibandingkan tahun 2023.

“Kami salah satu perusahaan terkecil dari pengertian aset, tapi memberi laba terbesar di antara tujuh anak usaha Jakpro,” pungkas Roberto.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.