Jakarta – Low Tuck Kwong, pengusaha batu bara terkemuka di Indonesia, memiliki dua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari perusahaan di sektor pertambangan dan jasa penambangan. Kekayaan Low Tuck Kwong mencapai 24,9 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp407,15 triliun.

Pergerakan investasi Low Tuck Kwong selalu menjadi sorotan publik dan pasar modal. Berikut profil lengkap Low Tuck Kwong dan kinerja dua saham yang ia miliki secara langsung:

Low Tuck Kwong lahir di Singapura dan pindah ke Indonesia pada 1973 untuk mengembangkan bisnis konstruksi. Pada 1988, ia memasuki bisnis batu bara.

Forbes mencatat kekayaannya mencapai 24,9 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp407,15 triliun, menjadikannya salah satu individu terkaya di Indonesia. Selain batu bara, ia juga merambah energi baru terbarukan melalui Metis Energy di Singapura.

Di BEI, Low Tuck Kwong memiliki dua saham secara langsung, yaitu dari perusahaan tambang dan jasa tambang.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) didirikan Low Tuck Kwong pada tahun 1997 dengan nama PT Gunungbayan Pratamacoal. Perusahaan ini mengoperasikan konsesi batu bara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, dengan tambang Tabang di Kutai Kartanegara yang menyumbang sekitar 80 persen produksi.

BYAN tercatat di BEI pada 12 Agustus 2008 dengan melepas 833 juta saham di harga Rp5.800 per saham.

Per 30 September 2025, Low Tuck Kwong memiliki 13,41 miliar saham BYAN atau 40,23 persen dari total saham beredar. Pada perdagangan 17 Oktober 2025, harga saham BYAN ditutup di Rp18.150 per saham, turun 7,75 persen dalam enam bulan terakhir. Secara *year to date*, saham BYAN terkoreksi 12,21 persen.

PT Samindo Resources Tbk (MYOH)

PT Samindo Resources Tbk (MYOH) adalah perusahaan jasa penambangan batu bara yang juga menjadi bagian dari portofolio investasi Low Tuck Kwong. Awalnya, MYOH merupakan perusahaan teknologi informasi sebelum diakuisisi oleh ST International Corporation dari Korea Selatan.

MYOH mengakuisisi beberapa entitas usaha untuk memperkuat lini bisnisnya. Salah satu tambang besar yang dikelola anak usahanya berada di lokasi penambangan milik PT Kideco Jaya Agung di Kalimantan Timur.

Per 30 September 2025, Low Tuck Kwong memiliki 312 juta saham MYOH atau 14,18 persen dari total saham beredar. Pada perdagangan 17 Oktober 2025, saham MYOH ditutup di angka Rp1.670 per saham. Dalam enam bulan terakhir, saham MYOH turun 7,73 persen, tetapi secara *year to date* tumbuh tipis 3,73 persen.

Kepemilikan saham BYAN dan MYOH menunjukkan posisi Low Tuck Kwong yang kuat di industri batu bara Indonesia.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.