Busan – Industri film Korea Selatan yang kini mendunia pernah disesaki oleh impor film Hollywood pada era 1990-an. Pada tahun 1993, pangsa pasar film lokal Korea bahkan hanya mencapai 15,9% dengan jumlah penonton tahunan di bawah 50 juta orang. Namun, melalui serangkaian pendekatan strategis dari pemerintah dan pihak swasta, industri ini bangkit dan kini menghadapi tantangan domestik berat pada tahun 2025 meskipun memiliki posisi global yang kuat.
Pemerintah Korea dan pihak swasta menyiasati dominasi film impor dengan berbagai cara, termasuk penerapan sistem kuota layar dan masuknya modal swasta dalam jumlah besar. Upaya ini juga membentuk ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara. Undang-Undang Promosi Film direvisi pada 1996, mewajibkan pemutaran film Korea selama 146 hari per tahun, meskipun kemudian dikurangi menjadi 73 hari pada 2006 setelah negosiasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Amerika Serikat. Kuota ini secara signifikan mengurangi hambatan masuk pasar dan memberikan kesempatan pemutaran yang stabil bagi kreator domestik.
Penurunan risiko tersebut mendorong konglomerat besar seperti CJ, Lotte, dan Showbox untuk berinvestasi secara agresif, menjadi dasar transisi menuju produksi film komersial beranggaran besar. Titik balik penting lainnya adalah peluncuran Busan International Film Festival (BIFF) pada 1996, yang berhasil menarik 180.000 orang di pembukaan perdananya. BIFF kemudian menjadikan Busan sebagai kota sinema, menginspirasi generasi baru pembuat film dan berkontribusi besar pada pengembangan talenta.
Evolusi OTT
Penyebaran sinema Korea di kancah internasional sangat berkaitan erat dengan evolusi platform konten. Ekspansi cepat layanan over the top (OTT) seperti Netflix, Viu, dan Disney+ menjadi mesin utama perluasan ke pasar luar negeri, memungkinkan karya sineas Korea masuk ke rumah tangga di banyak negara. Menanggapi era OTT, muncul sistem studio yang berfokus pada konten. Perusahaan seperti Studio Dragon, Studio S, dan SLL mengelola perencanaan, produksi, dan distribusi, sehingga memungkinkan penciptaan konten Korea yang dioptimalkan untuk platform global. Langkah kreator dinilai jadi lebih tersistematis. Film berfokus pada narasi padat berdurasi 2–3 jam dengan penekanan pada spektakel visual, sementara drama (K-Drama) berfokus pada format panjang (umumnya 16 episode) yang dirancang untuk kenyamanan menonton di rumah dan sering mengangkat tema universal.
Upaya Resiliensi di Tengah Krisis
Meskipun memiliki posisi global yang kuat, pasar film domestik Korea menghadapi evaluasi berat pada tahun 2025. Jumlah film komersial domestik berskala besar (dengan anggaran di atas KRW3 miliar) yang dirilis pada paruh pertama 2025 hanya sekitar 20 judul. Angka ini hampir menyamai puncak pandemi pada 2021 (17 film) dan jauh menurun dibandingkan dengan 2019 (60 film). Masalah utamanya bukan sekadar kegagalan box office, melainkan ketidakstabilan struktural yang terlihat dari volume produksi menurun dan pasar investasi menyusut.
Beberapa sumber industri melaporkan bahwa jumlah proyek film komersial bioskop yang aktif telah berkurang setengahnya. Ini bersamaan dengan biaya produksi yang melonjak tajam, menciptakan struktur tidak berkelanjutan: jumlah penonton menurun sementara anggaran terus membengkak. Akibatnya, investor hanya memilih genre dan konsep yang telah terbukti, sehingga proyek eksperimental dan kreatif tersingkir sejak tahap perencanaan. Ketergantungan berlebihan pada segelintir sutradara ternama juga menghambat pertumbuhan ekosistem produksi yang lebih luas. Melesunya film komersial layar lebar bukan disebabkan oleh OTT. Korea menilai masalah utama adalah kurangnya film bioskop yang benar-benar menarik dan wajib ditonton. Era “menonton film hanya karena sedang tayang di bioskop” telah berakhir, digantikan oleh ekspektasi tinggi konsumen terhadap kualitas dan pengalaman sinematik yang luar biasa.
Dukungan Nasional dan Regional
Menghadapi krisis itu, Pemerintah Korea menyusun kebijakan dukungan untuk memperkuat seluruh ekosistem film. Strategi ini berfokus pada perluasan dukungan finansial produksi, peningkatan daya saing melalui pengembangan talenta, serta bantuan penetrasi pasar luar negeri demi pertumbuhan industri yang berkelanjutan. Dukungan saat ini disalurkan melalui berbagai lembaga. Korean Film Council (KOFIC) menyediakan pendanaan produksi, dukungan teknologi, bantuan pemasaran luar negeri, serta mengelola Korean Academy of Film Arts (KAFA). Selain itu, pemerintah Korea juga menawarkan insentif pajak dan pinjaman kebijakan untuk investasi film.
Di ranah regional, ada komisi yang bergerak berdasarkan wilayah. Contohnya, Busan Film Commission (BFC) mendorong produksi film di lokasi Busan dengan pendanaan untuk proyek yang melakukan syuting minimal 30% di Busan dan mempekerjakan minimal 30% tenaga kerja lokal (termasuk ko-produksi internasional). Ada juga Seoul Film Commission (SFC) dan Gyeonggi Content Agency (GCA). Dukungan pemerintah pusat dan daerah yang berkelanjutan, bersama dengan kemampuan industri untuk secara konsisten menghadirkan konten berkualitas tinggi yang melampaui batas medium dan genre, akan menjadi kunci untuk menavigasi krisis.











