Jakarta – Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula pada anak-anak picu ancaman kesehatan serius. Gangguan gizi hingga resistensi insulin menjadi risiko yang mengintai.
Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) desak pemerintah untuk waspadai dampak jangka panjang kebiasaan buruk ini. Akses mudah anak-anak terhadap produk tinggi gula tanpa kontrol jadi sorotan utama.
“Makanan dan minuman tinggi gula sangat mudah didapatkan dan dikonsumsi anak-anak tanpa kontrol,” tegas KOPMAS.
Promosi keliru produk seperti kental manis juga jadi perhatian. Selama puluhan tahun, kental manis diiklankan sebagai susu, padahal kandungan gulanya lima kali lebih tinggi dari susu sapi cair.
Kental manis minim vitamin dan mineral, tidak dianjurkan untuk anak-anak, terutama usia 1-3 tahun, apalagi sebagai pengganti ASI atau susu formula. Anak di bawah 2 tahun bahkan sebaiknya hindari tambahan gula sama sekali.
Konsumsi kental manis berlebihan tingkatkan risiko gigi berlubang, obesitas, hingga resistensi insulin. Resistensi insulin dapat memicu diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, perlemakan hati, hingga penyakit jantung.
KOPMAS tekankan pentingnya edukasi dan pengawasan produk pangan tinggi gula, termasuk kental manis. Pemerintah diminta lindungi generasi penerus demi wujudkan Indonesia Emas 2045.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya sebut kualitas kesehatan generasi muda tentukan masa depan bangsa. Penurunan prevalensi stunting jadi 19,8 persen adalah capaian penting.
“Kita hanya punya dua dekade untuk memastikan mereka tumbuh sebagai generasi yang sehat, tangguh, dan unggul,” ujar Menkes.











