Jakarta – Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, membuat kejutan dengan hanya memanggil satu striker murni, Ramadhan Sananta, dalam 27 nama pemain untuk FIFA Matchday September. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang taktik baru yang disiapkan.
Sebelumnya, Kluivert selalu mengandalkan Ole Romeny sebagai ujung tombak dalam empat laga. Romeny tampil efektif dengan tiga gol ke gawang Australia, Bahrain, dan China.
Namun, Romeny absen karena cedera. Kondisi ini memaksa Kluivert merombak skema serangan Tim Garuda tanpa bergantung pada striker nomor sembilan klasik.
Sananta menjadi satu-satunya striker murni di skuad. Namun, peluangnya menjadi pilihan utama belum tentu aman karena gaya main Kluivert yang fleksibel.
Dua pemain naturalisasi baru, Miliano Jonathans dan Mauro Zijlstra, berposisi asli sebagai winger. Namun, keduanya bisa dicoba sebagai striker dadakan, seperti kesuksesan Romeny.
Timnas Indonesia memiliki banyak gelandang serang dan winger seperti Egy Maulana Vikri, Marselino Ferdinan, Stefano Lilipaly, dan Yakob Sayuri. Ragnar Oratmangoen juga kembali dari cedera dan bisa dimainkan di banyak posisi, termasuk false nine.
Strategi Kluivert menekankan fluiditas di lini depan, bukan hanya mengandalkan striker tunggal, tetapi pergerakan pemain sayap dan gelandang serang yang agresif menusuk ke kotak penalti.
Pendekatan ini didukung catatan gol Timnas Indonesia sepanjang 2024 hingga 2025. Dari 13 gol yang tercipta, hanya tiga lahir dari penyerang murni, Ole Romeny. Marselino Ferdinan dan Muhammad Ferarri bahkan menyumbang masing-masing dua gol.
Kluivert menyiapkan variasi skema yang bisa mengelabui lawan dengan rotasi posisi penyerang.
Uji coba melawan Taiwan pada Jumat (5/9/2025) dan Lebanon pada Senin (8/9/2025) akan menjadi ajang pembuktian ide itu. Lawan yang relatif lebih lemah membuat Kluivert lebih leluasa bereksperimen.
Namun, hasil akhir bukan ukuran utama. Yang lebih penting adalah menemukan formula terbaik untuk menghadapi Irak dan Arab Saudi pada Oktober mendatang.
Pola serangan variatif dengan pergerakan banyak pemain ke depan bisa menjadi senjata utama melawan Irak dan Arab Saudi yang punya pertahanan solid.
Sananta tetap punya kans membuktikan diri. Namun, jika tidak mampu memaksimalkan kesempatan, perannya bisa digeser oleh winger yang dipaksa jadi striker.
Jonathans dan Zijlstra bisa dipoles untuk mengisi peran yang sama, mengingat kecepatan dan kreativitas mereka di area kotak penalti.
Kembalinya Ragnar Oratmangoen juga membuka opsi lain bagi Kluivert dengan menempatkan false nine untuk menarik bek lawan keluar.
Dengan strategi ini, Timnas Indonesia bisa lebih berbahaya lewat kombinasi umpan-umpan pendek. Serangan tidak melulu harus mengandalkan bola panjang atau crossing ke kepala striker.
Kehadiran gelandang kreatif seperti Lilipaly dan Reijnders bisa memperkuat skema tersebut. Keduanya mampu mengalirkan bola dengan cerdas ke ruang-ruang kosong yang ditinggalkan striker palsu.
Kluivert butuh waktu untuk melihat siapa yang paling cocok jadi pengganti Romeny di lini depan.
Laga FIFA Matchday melawan Taiwan dan Lebanon akan menjadi panggung uji taktik. Jika berhasil, strategi tanpa striker murni bisa menjadi senjata rahasia Garuda menghadapi lawan kelas dunia.












