Keude Rundeng – Buku “Silent Spring” karya Rachel Carson terus menginspirasi gerakan lingkungan global. Lebih dari tiga dekade, buku ini mengkritik dampak revolusi hijau pada pertanian dan menyerukan pentingnya menjaga alam.
Ahli ilmu kelautan, Rachel Carson, mengajak pembaca memahami keterkaitan alam. Ia mengkritik industri kimia Amerika dan regulasi bahan kimia beracun melalui kisah kota fiksi yang kehilangan kehidupan akibat pestisida.
Revolusi Hijau yang mencapai puncak pada era 70-80an bertujuan meningkatkan produksi pangan. Namun, hal ini justru membuat negara berkembang bergantung pada negara maju.
Di Indonesia, Program Bimas di era Orde Baru menjadi bagian dari revolusi hijau. Meskipun Indonesia mencapai swasembada pangan pada 1984, petani menjadi tergantung pada pupuk, pestisida, dan benih industri.
Praktik revolusi hijau mengakibatkan lahan miskin hara, benih lokal terabaikan, dan kemerosotan keanekaragaman hayati. Pengetahuan lokal dan praktik bertani tradisional pun terdegradasi.
Ironisnya, saat belajar tentang bahan aktif pestisida di fakultas pertanian, penulis justru belajar dari Carson tentang bagaimana pestisida menghancurkan lingkungan.
Pengalaman ini membawa penulis berkelana di pedesaan, bertemu petani yang hidup susah dan kehilangan tanah. Anak-anak petani pun jarang bercita-cita menjadi petani.
Masyarakat perkotaan semakin jauh dari sumber daya alam. Penulis belajar tentang perjalanan panjang beras dari benih hingga menjadi makanan, serta bagaimana sistem pangan bekerja.
Proses ini melibatkan industri perbenihan, pupuk, penggilingan, pengumpul beras, transportasi, dan perbankan. Petani seringkali tidak berperan dalam sebagian besar proses tersebut.
Banyak orang menyisakan makanan, padahal beras telah melalui perjalanan panjang. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama yang menghargai setiap bagian makanan.
Kritik Carson terhadap industri menjadi inspirasi gerakan sosial. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Indonesia menjawab keresahan Carson mengenai revolusi hijau.
Negara perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi petani untuk memahami konteks keberadaan mereka, mengangkat derajat mereka, dan mendorong kreasi budidaya pertanian dengan menempatkan mereka sebagai penentu keputusan.
Industri pertanian seringkali hanya menguntungkan pemilik modal. Petani telah menjadi “budak industri” dan negara perlu meregulasi pilihan-pilihan sulit ini.
Sistem pertanian selaras alam menjadi pilihan bijak. Racun kimia diganti dengan kontrol alami, seperti pemanfaatan serangga pemangsa dan mikroba.
Pendidikan bagi petani harus disegerakan, dan publik harus disadarkan bahwa makanan yang mereka santap adalah harapan bagi petani. Negara berperan dalam melahirkan aturan yang cermat.
“Ketika diasumsikan bahwa alam ada demi kenyamanan manusia, maka ‘menguasai alam’ adalah sebuah ungkapan yang lahir dari kesombongan,” kata Carson. Petani justru jujur dan memperlakukan lahan serta tanaman sepenuh hati.
“Silent Spring” menyasar sistem ekologi yang berkelanjutan, di mana alam saling terkait dan model pertanian yang “lantam” harus terkendali.












