Jakarta – Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke-10 di Ancol, Jakarta Utara, pada Sabtu, 28 September 2025, berlangsung panas dan terpaksa ditutup lebih cepat dari jadwal. Ketua Umum PPP terpilih Muhammad Mardiono mengklaim terjadi keadaan darurat yang menyebabkan pertemuan tiga hari itu harus dihentikan pada Sabtu malam.
Mardiono, yang juga Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, menyatakan bahwa percepatan proses muktamar ini sebagai langkah “penyelamatan” partai. Ia mengaku telah mencurigai potensi kericuhan sejak awal, sehingga memutuskan menghentikan muktamar segera setelah dirinya ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua umum.
Kericuhan mulai memanas ketika Mardiono, yang saat itu masih menjabat pelaksana tugas ketua umum, menyampaikan pidato sambutan. Peserta muktamar ramai-ramai menyoraki dan meneriakkan permintaan agar Mardiono turun. Teriakan protes bahkan berlanjut saat Mardiono melakukan sesi wawancara dengan awak media setelah pembukaan acara.
Sekitar pukul 17.15 WIB, di tengah pidato Mardiono, kader partai mulai meneriakkan yel-yel, “Ketua baru, ketua baru.” Upaya panitia menenangkan peserta tidak berhasil meredam kegaduhan, dan sorakan masih terdengar saat Mardiono meninggalkan ruangan.
Dalam pidatonya, Mardiono sempat menyampaikan permintaan maaf di hadapan kader terkait performa PPP di Pemilihan Umum 2024. Ia mengakui kegagalan partai berlambang Ka’bah itu melaju ke Senayan tidak semata-mata karena faktor eksternal, melainkan juga konflik internal partai yang berdiri sejak 1973.
PPP hanya berhasil meraih 5.878.777 suara atau 3,87 persen dari total suara nasional pada Pemilu 2024. Angka ini gagal memenuhi ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen, memastikan PPP untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1973 tidak lolos ke Senayan.
Sesi wawancara Mardiono dengan awak media juga diwarnai keributan. Kader PPP dari kubu yang berlawanan menyorakinya dengan teriakan, “Perubahan, perubahan!” Adu mulut, saling dorong, hingga pelemparan botol air dan kursi sempat terjadi di lokasi.
Kelompok kader pendukung Mardiono lantas membalas sorakan, memperkeruh situasi. Petugas keamanan pun berupaya menenangkan dan melerai dua kubu yang saling menyalahkan tersebut. Wakil Ketua Umum DPP PPP Rusli Effendi sempat meminta peserta untuk menahan diri dan mengedepankan kesantunan.
Setelah ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua umum, Mardiono menduga ada pihak-pihak yang sengaja membuat kegaduhan. Ia mengklaim 80 persen pemilik suara muktamar telah menyetujui percepatan pelaksanaan, sebagai langkah agar tidak terjadi keributan yang berkepanjangan.
Mardiono merupakan petahana yang ditunjuk sebagai pelaksana tugas ketua umum dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) pada September 2022. Ia menggantikan Suharso Monoarfa yang dicopot akibat kontroversi pidato soal amplop kiai.
Sebelumnya, juru bicara PPP Usman Muhammad Tokan alias Donnie Tokan menyebut tiga kandidat pucuk pimpinan partai, yaitu Mardiono, mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, dan eks duta besar Indonesia untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie.
Sekretaris Jenderal PPP Muhammad Arwani Thomafi sebelum acara dimulai telah menegaskan bahwa Dewan Pimpinan Pusat tidak melakukan cawe-cawe dalam pemilihan ketua umum. Menurutnya, dukungan untuk para calon merupakan hak setiap kader.












