Agam – Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, menerima kunjungan lapangan dari tim juri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Penilaian ini merupakan bagian dari tahapan Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025 untuk sub bidang destinasi.

Perwakilan tim juri Kemenparekraf RI, Ni Wayan Giri Adnyani, menerangkan bahwa kedatangan timnya bertujuan untuk melakukan verifikasi dan penilaian langsung di lapangan setelah sebelumnya menerima dan menelaah dokumen yang dikirimkan oleh desa wisata peserta. “Dari dokumen yang kami terima, tim juri menganalisis dan menilai bahwa Koto Gadang layak masuk 30 besar desa wisata di ajang WIA 2025 untuk sub bidang destinasi,” ujarnya pada Rabu (12/11/2025).

Ia merincikan bahwa komposisi 30 besar WIA bidang destinasi tahun ini terbagi dalam empat kategori, yaitu 15 desa wisata terbaik, 6 pokdarwis terbaik, 6 daya tarik wisata terbaik, dan 3 toilet bersih terbaik. Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan, pada tahun 2025, terdapat 1.118 peserta yang mendaftar untuk WIA sub bidang destinasi, dan Koto Gadang berhasil menembus 30 besar. Rinciannya, kategori desa wisata diikuti 601 peserta, daya tarik wisata yang dikelola swasta 261 peserta, pokdarwis 177 peserta, dan toilet bersih 79 peserta.

Ni Wayan Giri Adnyani mengapresiasi komitmen, kerja keras, dan kolaborasi yang luar biasa dari pokdarwis, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, serta seluruh pemangku kepentingan. “Hari ini menunjukkan bagaimana dukungan penuh diberikan kepada Koto Gadang,” sebutnya pada Rabu (12/11/2025). Ia menjelaskan bahwa kategori desa wisata diberikan kepada desa yang berhasil mengembangkan potensi lokalnya secara berkelanjutan. Melalui ajang ini, ia berharap desa wisata mampu meningkatkan daya saing dengan menonjolkan keunikan sejarah, potensi sumber daya manusia, alam, budaya, hingga kehidupan masyarakat dan kulinernya.

Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian penting. “Ini bagaimana supaya kondisi yang sudah baik bisa menjadi lebih baik lagi, agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tata kelola, sosial ekonomi, budaya dan lingkungan,” terangnya pada Rabu (12/11/2025). Ia menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan desa wisata bukan hanya untuk masa kini, tetapi juga untuk generasi mendatang. “Kita tidak menjaga alam untuk anak cucu, tetapi meminjam alam dari mereka. Karena itu, tugas kita adalah mengembalikannya dalam kondisi yang lebih baik dari sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya berorientasi pada manfaat ekonomi, tetapi juga pada harmoni sosial, budaya, dan lingkungan. “Semua pihak harus bisa menikmati manfaatnya. Dengan desa wisata, kehidupan masyarakat menjadi lebih guyub dan berdaya, bukan hanya ekonomi yang tumbuh, tetapi juga nilai-nilai budaya dan kelestarian lingkungan tetap terjaga,” sebut Ni Wayan Giri Adnyani.

Sementara itu, Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, mengaku bangga atas terpilihnya Koto Gadang sebagai salah satu dari 30 besar desa wisata terbaik di Indonesia. “Koto Gadang memiliki sejarah panjang, budaya kuat dan masyarakat yang kreatif. Kami bangga desa ini bisa membawa nama Kabupaten Agam di tingkat nasional,” ujar M Iqbal pada Rabu (12/11/2025).

Dia berharap kehadiran tim juri dari Kemenparekraf menjadi motivasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus mengembangkan potensi lokal. “Kunjungan ini bukan sekadar penilaian, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Pemerintah daerah akan terus mendukung pengembangan desa wisata sesuai kearifan lokal, agar semakin berdaya saing dan berkelanjutan,” ujarnya menegaskan pada Rabu (12/11/2025).

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.