Sidoarjo – Kementerian Agama (Kemenag) mengakui banyak pondok pesantren tradisional di Indonesia didirikan tanpa menempuh prosedur formal, terutama terkait perizinan bangunan. Pengakuan ini muncul setelah ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada September 2025 yang menewaskan 14 orang dan melukai puluhan santri.

Menanggapi hal tersebut, Kemenag berkomitmen mendorong mitigasi dengan melakukan identifikasi dan asesmen terhadap bangunan pesantren yang berpotensi bermasalah.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyatakan peristiwa tragis di Ponpes Al Khoziny menjadi momen penting yang menyadarkan Kemenag untuk lebih memperhatikan aspek keamanan dan kelayakan bangunan pesantren. Ia mengakui, insiden itu terjadi karena kelemahan dari sisi bangunan.

“Semua bangunan pada prinsipnya harus berizin, bukan hanya pesantren. Regulasi sudah ada, tinggal patuhi agar tidak menimbulkan risiko,” ujar Thobib melalui keterangan resmi pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Kemenag menekankan kepada seluruh pengelola pondok pesantren untuk patuh terhadap prosedur pembangunan yang berlaku, terutama mengenai kepemilikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Ke depan, Kemenag berjanji akan lebih ketat dalam mengawasi proses pembangunan di pondok pesantren. Meski tidak memiliki kewenangan teknis dalam menilai kelayakan bangunan, Kemenag akan berkoordinasi dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), untuk membantu mengawasi keamanan sarana yang dibangun.

Kemenag juga menyampaikan duka cita atas jatuhnya puluhan korban dalam peristiwa yang menimpa Ponpes Al Khoziny. Menteri Agama Nasaruddin Umar telah mengunjungi langsung lokasi kejadian.

Menurut Thobib, Menteri Agama tidak hanya berempati, tetapi juga memahami penyebab musibah. “Pak Menteri melihat ada banyak hal ke depan yang harus diperbaiki. Ini menjadi pelajaran agar seluruh pondok pesantren benar-benar memperhatikan pembangunan dengan kenyamanan dan keamanan santri,” tuturnya.

Asrama santri putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, 29 September 2025, ketika para santri tengah melaksanakan salat asar berjamaah di lantai dua yang difungsikan sebagai musala. Peristiwa ini diduga terjadi karena pondasi bangunan tidak kokoh.

Pengasuh pesantren, Abdul Salam Mujib, menjelaskan bahwa bangunan yang ambruk itu memang masih dalam tahap renovasi. Sejak pagi hingga pukul 12.00 di hari kejadian, atap lantai tiga yang ambruk baru saja dicor. “Setahu saya, pengecoran terakhir dilakukan tadi pagi sampai siang hari,” kata Mujib.

Sekitar pukul 15.00, atap yang baru dicor tersebut tiba-tiba ambruk dan menimpa ratusan santri yang tengah salat di lantai dua. Mereka yang berada di dalam musala pun terjebak di balik reruntuhan.

Hingga Jumat, 3 Oktober 2025, total korban tercatat 167 orang. Dari jumlah tersebut, 118 orang sudah ditemukan dengan rincian 103 orang selamat, 14 orang meninggal dunia, dan satu orang pulang tanpa membutuhkan perawatan medis.

Sebanyak 14 orang korban selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, 89 orang sudah diperbolehkan pulang, dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto. Namun, 49 orang lainnya berdasarkan daftar absensi pondok pesantren masih dalam pencarian tim SAR gabungan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.