Padang – Lebih dari 1.000 hektare tanaman padi di Sumatera Barat terancam kekeringan. Kondisi ini terjadi sejak Mei hingga Agustus 2025, terutama di daerah bayangan hujan di belakang Bukit Barisan.
Limapuluh Kota dan Tanah Datar menjadi wilayah terdampak paling luas. Kekeringan ini menjadi ancaman rutin setiap tahun bagi petani padi.
Air tanah di persawahan dan sungai mengering, menyulitkan upaya mitigasi. Akibatnya, tanaman padi terpapar kekeringan tanpa penanganan memadai.
Solok, Sijunjung, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Pasaman, Kota Solok, Payakumbuh, dan Sawahlunto menjadi zona langganan kekeringan. Tanaman padi menjadi yang paling rentan.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya mitigasi melalui APBN dan APBD. Pengadaan mesin pompa air, pemasangan biopori, pembuatan bak penampungan air, sumur bor, dan sosialisasi terkait iklim telah dilakukan.
Namun, mitigasi belum merata dan seringkali berpindah-pindah lokasi setiap tahun.
Pengamatan selama 20 tahun menunjukkan bahwa pembuatan bak penampungan air, penanaman tanaman yang tidak banyak membutuhkan air, dan sosialisasi tentang dampak perubahan iklim efektif dipertahankan.
Program penanaman tanaman alternatif seperti palawija dan sayuran terbukti memberikan hasil nyata dan menguntungkan petani.
Keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama penanganan dampak perubahan iklim. Akibatnya, bencana kekeringan yang datang setiap tahun sulit dikendalikan.
Pemanfaatan dana pokok pikiran (pokir) anggota dewan dan dana desa/nagari dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan anggaran dalam penanganan kekeringan.












