Lamongan – Istri mendiang kiper legendaris Persela Lamongan, Khoirul Huda, kini berjualan pisang Cavendish di belakang Kantor Pemkab Lamongan untuk menyambung hidup. Kabar pilu ini terkuak melalui unggahan media sosial yang menyentuh hati publik, delapan tahun setelah kepergian sang penjaga gawang.

Unggahan akun Facebook bernama Fera Astrid pertama kali menyebarkan informasi ini dengan pesan singkat, “Istri almarhum Khoirul Huda pemain Persela, kalau kalian lewat sini tolong dilarisi ya. Sekarang jualan pisang Cavendish di belakang Pemkab Lamongan.” Postingan tersebut dengan cepat menjadi viral, memicu gelombang empati dan beragam tanggapan dari warganet.

Banyak warganet mengaku terkejut dan sedih, mengingat jasa besar almarhum Khoirul Huda bagi dunia sepak bola Indonesia, khususnya Persela Lamongan. Akun Sigit Git berkomentar, “Semoga jualannya laris manis dan menjadi rizqi yg barokah buat keluarganya…Aamiin YRA.” Sementara akun Septian Wh Bairoed menyerukan, “Ayo ramaikan jualannya dengan cara membeli dagangannya. Kita niat menghargai seorang pejuang persela lamongan Alfatekah kagem cak huda.”

Meskipun almarhum Khoirul Huda telah mendapat status Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Pemerintah Kabupaten Lamongan sejak 2002 dengan golongan IIc, yang berarti keluarganya masih menerima uang pensiun bulanan, kondisi ekonomi tampaknya tetap menjadi tantangan berat. Oleh karena itu, sang istri berjuang dengan berjualan pisang Cavendish.

Khoirul Huda dikenal sebagai simbol kesetiaan dalam sepak bola Tanah Air. Sepanjang karier profesionalnya dari 1999 hingga akhir hayatnya pada 2017, ia hanya membela satu klub: Persela Lamongan. Selama hampir dua dekade, pria kelahiran Lamongan, 2 Juni 1979 ini, tampil sebanyak 503 kali bersama klub berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut.

Ia bahkan sempat mendapat panggilan memperkuat Timnas Indonesia dalam kualifikasi Piala Asia 2015 melawan Tiongkok. Namun, takdir berkata lain pada 15 Oktober 2017, saat Persela menjamu Semen Padang di Liga 1. Huda bertabrakan keras dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, yang menyebabkan hipoksia dan merenggut nyawanya di rumah sakit.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, pendukung Persela, dan masyarakat Lamongan. Kisah perjuangan istrinya kini menjadi pengingat bahwa di balik sorotan gemerlap dunia sepak bola, ada kehidupan nyata yang penuh tantangan. Ini juga merefleksikan ketegaran seorang istri yang berjuang sendirian demi kelangsungan hidup keluarga sang legenda.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.