Padang Panjang – Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang menunjukkan komitmennya dalam pengembangan seni dan budaya dengan meraih akreditasi internasional untuk empat program studi. Kabar baik ini datang di tengah suasana duka akibat bencana yang melanda wilayah tersebut.

Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini. “Kita tentunya sangat bersyukur atas diraihnya akreditasi internasional ini,” ujarnya. Akreditasi FIBA A berhasil diraih oleh program studi Seni Karawitan, Seni Tari, Seni Musik, dan Kriya Seni. Diharapkan, akreditasi ini akan membuka pintu kerjasama yang lebih luas dengan berbagai pihak di kancah internasional.

Proses panjang untuk mendapatkan akreditasi internasional ini telah dimulai sejak masa kepemimpinan Profesor Novesar Jamarun, dan pengumuman hasil menggembirakan tersebut diterima pada November 2025. Febri menambahkan, “Selanjutnya kita akan mempersiapkan akreditasi internasional untuk prodi lainnya dan akreditasi institusi.”

Perayaan Dies Natalis ke-60 ISI Padang Panjang, yang dilaksanakan pada Senin (22/12) di Gedung Hoerijah Adam, tahun ini diwarnai dengan aksi solidaritas terhadap korban bencana. Febri Yulika menjelaskan, “Lantaran masih suasana duka, peringatan Dies Natalis ke-60 ini kita alih wahana dari selebrasi ke solidarity.”

Sebagai bentuk kepedulian, ISI Padang Panjang telah mengumpulkan donasi sebesar Rp65 juta, ditambah Rp20 juta dari dharmawanita. Selain itu, lima tim diterjunkan untuk memberikan trauma healing berbasis seni di tempat pengungsian. Sebanyak 35 mahasiswa terdampak bencana juga diusulkan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, serta pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 5-6 mahasiswa.

Wakil Walikota Allex Saputra, yang mewakili Walikota Hendri Arnis, mengapresiasi empati ISI Padang Panjang terhadap korban bencana. Ia juga menyoroti peran penting ISI Padang Panjang bagi Kota Padang Panjang sebagai pusat pendidikan, khususnya di bidang seni dan budaya. “Sejauh ini, pemko telah bersinergi dan berkolaborasi dengan ISI, diantaranya dalam bentuk festival, pelatihan, penelitian dan promosi karya seni,” tuturnya.

Selain itu, seorang mahasiswa ISI Padang Panjang berhasil meraih peringkat ketiga dalam Kompetisi Piano Nusantara dan mendapatkan golden tiket untuk mengikuti ajang serupa di tingkat internasional.

Dalam kesempatan tersebut, ISI Padang Panjang juga memberikan anugerah kepada dosen dan mahasiswa berprestasi, tokoh pendiri dan pengembang ISI, Almarhum Bustanul Arifin Adam dan Hoerijah Adam, serta dosen dan pegawai yang memasuki masa purnatugas.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.