Zurich – Presiden FIFA Gianni Infantino menolak desakan internasional untuk menangguhkan Israel dari kompetisi sepak bola, menegaskan bahwa FIFA tidak akan mengambil langkah politik dan hanya berkomitmen menjadikan sepak bola sebagai sarana perdamaian.
Dalam pertemuan Dewan FIFA di Zurich, Infantino menyatakan bahwa organisasi tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah geopolitik. Sebaliknya, FIFA akan berfokus mempromosikan nilai persatuan, kemanusiaan, dan budaya melalui olahraga.
Meskipun isu Israel tidak secara resmi masuk dalam agenda, Infantino menekankan kepada 37 anggota dewan pentingnya menjaga perdamaian, terutama di tengah konflik berkepanjangan di Gaza. “Pertemuan ini memberi kami kesempatan untuk menegaskan kembali peran sepak bola sebagai sarana perdamaian dan persatuan,” tulis Infantino.
Sehari sebelumnya, Infantino juga bertemu Ketua Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, di markas FIFA. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari dialog Rajoub dengan Presiden IOC Kirsty Coventry.
“FIFA tidak bisa menyelesaikan masalah geopolitik, tetapi bisa dan harus mempromosikan sepak bola di seluruh dunia dengan memanfaatkan nilai persatuan, pendidikan, budaya, dan kemanusiaan,” ujar Infantino melalui akun Instagram resminya.
Infantino bahkan memuji ketahanan organisasi sepak bola Palestina di tengah situasi sulit. Ia menegaskan kembali komitmen FIFA untuk menggunakan kekuatan sepak bola dalam menyatukan orang-orang di dunia yang terpecah.
Desakan agar Israel ditangguhkan sejatinya sempat menguat di Eropa dalam dua tahun terakhir. Namun, dorongan itu meredup setelah munculnya proposal perdamaian yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dukungan ini memperkuat posisi Israel, termasuk janji pemerintah Amerika Serikat untuk menjaga status Israel di dunia sepak bola. Selain itu, negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, juga ikut menyuarakan dukungan pada proses perdamaian.
Meskipun demikian, FIFA telah membuka dua investigasi atas permintaan Palestina, yakni dugaan diskriminasi dalam federasi Israel serta partisipasi klub-klub yang berbasis di wilayah Palestina. Hingga saat ini, tidak ada kepastian mengenai batas waktu penyelesaiannya.











