Jakarta – Mimpi Indonesia untuk menembus Piala Dunia membutuhkan lebih dari sekadar dukungan, regenerasi pemain, atau pelatih asing. Sistem kompetisi yang kuat dan berkelanjutan di semua level menjadi kunci utama.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Sepak Bola LaLiga, Juan Florit Zapata, dalam sebuah wawancara. Menurutnya, Indonesia memiliki gairah dan budaya sepak bola yang besar, namun hal itu saja tidak cukup.
Lima Faktor Utama Ekosistem Sepak Bola
Florit menjelaskan, ada lima faktor utama dalam membangun ekosistem sepak bola yang solid: budaya sepak bola, infrastruktur, metodologi latihan, filosofi permainan, dan yang terpenting, sistem kompetisi.
“Kompetisi yang berjenjang dan konsisten adalah yang paling menentukan,” tegasnya. Ia mencontohkan sistem di Spanyol, di mana pemain muda bisa bermain di kompetisi resmi sejak usia 7-8 tahun.
“Seorang anak di Spanyol bisa memainkan sekitar 500 pertandingan sebelum berusia 18 atau 19 tahun,” ujar Florit. LaLiga meyakini bahwa pertandingan adalah bagian integral dari latihan. Latihan mengasah kemampuan teknis, sementara pertandingan menguji keputusan dan mentalitas pemain.
Sulit, Tapi Bukan Mustahil
Menanggapi pertanyaan apakah Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia tanpa sistem kompetisi yang kuat, Florit menjawab dengan hati-hati. “Sulit, tapi bukan mustahil,” katanya.
Namun, ia menekankan bahwa membangun struktur kompetitif yang berkelanjutan, mulai dari U-10 hingga U-19, akan sangat membantu membuka jalan menuju kesuksesan. Keberhasilan tim nasional tidak bisa hanya bergantung pada bakat alami atau proyek jangka pendek seperti pemusatan latihan atau naturalisasi pemain.
Prioritas Utama Reformasi Sepak Bola Indonesia
Jika LaLiga berada di posisi Indonesia, Florit mengatakan dua prioritas utama adalah: membangun sistem kompetisi usia muda yang berjenjang dan sesuai konteks lokal, serta meningkatkan kapasitas pelatih dan profesional lokal.
Tanpa pelatih lokal yang kompeten dan kompetisi yang terstruktur, semua investasi akan sia-sia. LaLiga mungkin bisa membantu di tahap awal dengan berbagi keahlian dan metodologi, namun dalam jangka panjang, perubahan harus dilakukan oleh profesional lokal.
Kesempatan Bertanding untuk Anak-Anak
Florit menilai reformasi sepak bola Indonesia harus dimulai dari hal yang paling sederhana namun paling penting: memberi anak-anak lebih banyak kesempatan bertanding.
“Anak yang bermain 500 pertandingan sebelum dewasa akan selalu lebih siap daripada anak yang hanya bermain 50 pertandingan,” ujarnya. Sistem kompetisi yang sehat bukan hanya mencetak pemain hebat, tetapi juga menjaga stabilitas finansial klub dan keseimbangan industri sepak bola.












