Jakarta – Indonesia tengah mempersiapkan diri untuk menjadi pengekspor pangan utama di tingkat global, didukung oleh keberhasilan dalam mencapai swasembada pangan. Perum Bulog menyatakan tidak akan melakukan impor beras selama swasembada pangan dapat dipertahankan.
Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, menyampaikan bahwa kebijakan untuk tidak mengimpor beras merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang difokuskan pada peningkatan produksi dalam negeri dan pengelolaan cadangan pangan. “Bulog sejak 2025 sampai ke depan sepanjang Indonesia swasembada pangan tidak akan merasakan impor beras,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Keberhasilan swasembada beras yang dicapai pada tahun 2025 menjadi dasar untuk melanjutkan program serupa di tahun 2026. Bulog menargetkan penyerapan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton, meningkat signifikan dari target tahun sebelumnya yang sebesar 3 juta ton. Peningkatan target ini bertujuan untuk memperkuat stok beras nasional dan menjaga stabilitas pasokan serta harga di seluruh wilayah Indonesia.
Selain beras, Bulog juga mendapatkan penugasan untuk menyerap komoditas pangan lainnya, termasuk jagung sebanyak 1 juta ton dan kedelai sebesar 70 ribu ton. Langkah ini memperluas peran Bulog sebagai stabilisator pangan yang tidak hanya terbatas pada beras. Ahmad Rizal Ramdhani berharap, “Agar seluruh penugasan pemerintah ini dapat dilaksanakan dengan baik, baik penyerapan beras 4 juta ton, jagung 1 juta ton, maupun kedelai 70 ribu ton.”
Pemerintah, melalui instruksi presiden, juga menugaskan Bulog untuk menyiapkan stok khusus beras sebanyak 1 juta ton yang akan digunakan sebagai bantuan pangan bagi negara-negara yang mengalami krisis, terutama di kawasan ASEAN dan wilayah yang terdampak konflik. Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan kepercayaan pemerintah terhadap kekuatan stok pangan nasional.










