Jakarta – PT Indofarma (Persero) Tbk. melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 413 karyawan pada pertengahan September 2025. Akibatnya, pada 15 September 2025, emiten berkode saham INAF ini tercatat hanya memiliki tiga karyawan.
Namun, perusahaan kemudian merekrut ulang 18 karyawan baru di akhir September 2025, sehingga jumlah pekerja per 30 September 2025 menjadi 21 orang.
Manajemen Indofarma dalam laporan keuangannya di Bursa Efek Indonesia menjelaskan, langkah PHK massal ini diambil dalam rangka rightsizing. Tujuannya adalah memastikan sumber daya perusahaan dipergunakan secara tepat dan efektif.
Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menambahkan bahwa penambahan karyawan akan disesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia untuk menjalankan model bisnis terbatas sesuai Putusan Homologasi.
Dalam periode yang sama, Indofarma masih membukukan kerugian yang signifikan. Per 30 September 2025, BUMN farmasi ini mencatatkan rugi sebesar Rp 127 miliar. Angka ini memang menurun dari kerugian Rp 166,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan bersih INAF juga mengalami penurunan. Tercatat, perusahaan hanya mampu mengantongi Rp 133,7 miliar, turun dari penjualan Rp 137,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan tersebut didominasi oleh pasar lokal yang meliputi segmen ethical sebesar Rp 56,5 miliar, vaksin Rp 59,1 miliar, serta alat kesehatan, jasa klinik, dan lainnya senilai Rp 1,7 miliar. Sementara itu, penjualan ekspor terdiri dari produk over the counter (OTC) Rp 11,1 miliar dan ethical Rp 5,1 miliar.
Hingga 30 September 2025, Indofarma memiliki aset sebesar Rp 581,5 miliar. Namun, liabilitas perseroan mencapai Rp 1,4 triliun, menyebabkan ekuitas perusahaan minus (defisiensi modal) sebesar Rp 890,9 miliar. Angka defisiensi modal ini menurun dari Rp 1,1 triliun pada periode sebelumnya.
Sebelumnya, pada kuartal I-2025, Indofarma juga membukukan kerugian sebesar Rp 25,1 miliar, menurun dari Rp 53,9 miliar di periode yang sama tahun lalu. Pada periode tersebut, pendapatan perusahaan mencapai Rp 36,7 miliar.











