Jakarta – PT Indofarma Tbk (INAF) memperoleh pinjaman sebesar Rp 220 miliar dari PT Bio Farma, holding BUMN farmasi, pada 15 September 2025. Pinjaman ini akan digunakan untuk mendukung efisiensi biaya operasi perseroan dan menjaga keberlangsungan usaha. Pengumuman ini disampaikan pada Rabu, 17 September 2025.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menjelaskan bahwa putusan homologasi mengharuskan Indofarma memprioritaskan efisiensi biaya operasi. Langkah ini mencakup seluruh komponen biaya operasi yang dinilai tidak efisien dan produktif.

“Guna mengurangi biaya dan menambah profitabilitas, serta penyesuaian jumlah tenaga kerja dengan model bisnis terbatas yang akan dijalankan sesuai putusan homologasi, sehingga kegiatan operasional dapat berlangsung secara lebih efisien,” kata Sahat dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Sahat berharap pinjaman ini dapat menata beban usaha secara proporsional. Pinjaman tersebut memiliki tenor 12 bulan dengan bunga sebesar 7 persen. “Besaran bunga sebesar 7 persen per annum yang akan dibayarkan oleh Perseroan pada akhir masa pinjaman,” tambahnya.

Sehubungan dengan perjanjian pinjaman ini, Indofarma akan memberikan jaminan berupa aset non-jaminan perseroan di 18 lokasi. Pemberian jaminan akan dilakukan setelah Indofarma memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Penentuan nilai atas aset yang akan dijadikan jaminan tersebut akan berdasarkan hasil penilaian oleh Penilai Independen sebagaimana dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan,” jelas Sahat.

Sebelumnya, pada 10 Maret 2025, Indofarma mengakui memiliki utang gaji karyawan sebesar Rp 98 miliar. Angka ini meningkat dari Rp 31,88 miliar pada 30 Juni 2024. Saat itu, Indofarma menyatakan bakal menjual aset senilai Rp 306,3 miliar untuk melunasi tunggakan gaji karyawan tersebut.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.