Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan kinerja positif. IHSG ditutup menguat 1,17% ke level 8.748,13 pada akhir perdagangan Jumat (2/1/2026).

Penguatan IHSG didorong oleh kenaikan saham sektor transportasi yang mencatatkan penguatan terbesar. Namun, sektor keuangan justru mengalami koreksi terdalam.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 16.725 per dolar AS di pasar spot. Pelemahan ini sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai IHSG secara teknikal masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada awal pekan depan.

“Indikator Stochastic RSI IHSG berlanjut menguat di area pivot, didukung oleh penyempitan histogram negatif MACD serta kenaikan volume beli,” kata Alrich.

Dengan kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan berpeluang melanjutkan tren kenaikan dan menguji level psikologis baru. Alrich memproyeksikan resistance IHSG berada di level 8.800, dengan pivot 8.700 dan support di 8.600.

Dari sisi sentimen makro, pelaku pasar mencermati rilis data S&P Global Manufacturing PMI Indonesia yang tercatat turun ke level 51,2 pada Desember 2025. Angka ini lebih rendah dari 53,3 di November 2025 dan estimasi 53,6.

Meskipun melambat, indeks ini masih menunjukkan ekspansi sektor manufaktur yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut. “Penurunan PMI disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan pesanan baru, namun aktivitas manufaktur masih berada di fase ekspansi,” jelas Alrich.

Untuk pekan ini, perhatian pasar juga akan tertuju pada rilis data neraca perdagangan dan inflasi. Kedua data ini berpotensi mempengaruhi arah pergerakan pasar saham domestik.

Selain itu, sentimen domestik turut datang dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya terkait penempatan dana pemerintah di perbankan. Dari total dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun, sekitar Rp 75 triliun telah ditarik untuk kebutuhan belanja rutin kementerian dan lembaga.

Langkah ini dilakukan karena dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan kredit perbankan masih di bawah ekspektasi awal. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat stabil di kisaran 7%. Hal ini dinilai masih dipengaruhi oleh suku bunga kredit perbankan yang bertahan di sekitar 8,96% per November 2025, meskipun BI Rate berada di level 4,75%.

Untuk strategi perdagangan awal pekan depan, Alrich merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham. Beberapa di antaranya adalah PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.