JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan cenderung terbatas pada awal tahun 2026 akibat kondisi likuiditas pasar yang rendah. Meskipun demikian, tren jangka menengah IHSG dinilai tetap positif, didukung oleh sentimen global dan domestik yang kondusif. Pada penutupan perdagangan akhir tahun 2025, Selasa (30/12/2025), IHSG ditutup menguat tipis 0,03% ke level 8.646,93, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) sebanyak 24 kali sepanjang tahun. Pembukaan perdagangan saham tahun depan akan dimulai pada Jumat (02/01/2026).

Analis memproyeksikan IHSG masih berpeluang bergerak dalam area terbatas atau konsolidatif pada sesi awal pasar. Hal ini disebabkan aktivitas perdagangan yang masih tipis dan volume yang cenderung rendah di tengah periode liburan akhir tahun dan awal tahun.

Namun, prospek IHSG secara keseluruhan tetap cenderung positif jika mencermati tren utamanya. Dukungan utama datang dari potensi berlanjutnya sikap dovish Federal Reserve (The Fed) dan langkah stimulus domestik yang dapat menjadi katalis positif.

Kondisi tersebut dinilai mampu mendorong masuknya aliran modal asing (capital inflow) ke Indonesia. Valuasi pasar saham domestik yang relatif menarik dibandingkan negara berkembang lainnya menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

Dari sisi eksternal, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk potensi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, diperkirakan akan memperkuat arus modal ke aset pasar berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini berpotensi menopang pergerakan IHSG dan membuka peluang berlanjutnya fase bullish pada awal 2026.

Sementara itu, sentimen pasar dari dalam negeri dinilai relatif kondusif. Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, meskipun pertumbuhan ekonomi cenderung moderat.

Sepanjang tahun 2025, IHSG sempat tertekan pada semester I, namun berhasil bangkit pada paruh kedua. Performa ini mampu membawa indeks mencetak rekor tertinggi sepanjang masa hingga 24 kali.

Pada penutupan perdagangan 30 Desember 2025, pergerakan saham relatif berimbang dengan 346 saham menguat, 317 saham melemah, dan 146 saham stagnan. Secara sektoral, enam indeks sektoral mencatatkan penguatan. Sektor barang konsumen siklikal naik terbesar 3,03%, disusul infrastruktur 2,04% dan keuangan 0,97%. Sebaliknya, tekanan terdalam terjadi pada sektor kesehatan yang turun 1,53%, diikuti barang baku 1,17% serta teknologi 0,98%.

Meskipun prospeknya positif, pelaku pasar diingatkan untuk mewaspadai potensi peningkatan volatilitas pada awal tahun. Periode ini kerap diwarnai aksi profit taking, rebalancing portofolio, serta penyesuaian alokasi aset oleh investor institusi pasca penutupan buku tahunan. Volume transaksi yang tipis selama masa libur juga berpotensi membuat pergerakan pasar kurang stabil, memicu distorsi harga akibat aksi spekulatif jangka pendek. Investor disarankan menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Berdasarkan kondisi makro dan tren fundamental, sejumlah sektor saham potensial direkomendasikan. Sektor perbankan dan keuangan dinilai masih atraktif seiring stabilitas likuiditas, pertumbuhan kredit, dan ekspektasi kebijakan moneter akomodatif. Sektor konsumsi dan barang konsumen juga prospektif karena ditopang permintaan yang resilien terhadap siklus ekonomi. Sementara itu, sektor telekomunikasi dan layanan digital berpeluang melanjutkan kinerja positif didukung pertumbuhan penggunaan data serta kebutuhan layanan digital berkelanjutan.

Untuk perdagangan awal tahun, tepatnya pada Jumat (2/1/2026), IHSG diprediksi akan bergerak pada kisaran support di level 8.600 dan resistance di level 8.700.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.