Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada perdagangan Rabu (8/10), mencapai posisi 8.201,14. Penguatan ini terjadi di tengah penurunan signifikan cadangan devisa Indonesia per September 2025 yang tercatat sebesar USD 148,7 miliar, terendah sejak Juli 2024.

Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG naik 31,86 poin atau 0,39 persen dari posisi sebelumnya. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga menunjukkan kenaikan 2,63 poin atau 0,33 persen ke posisi 788,00.

Peningkatan optimisme pasar didukung oleh revisi proyeksi Bank Dunia yang menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 menjadi 4,8 persen year on year (yoy), lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 4,7 persen (yoy). Untuk tahun 2026, Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh 4,8 persen (yoy).

Menanggapi sentimen positif ini, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju level tertinggi di 8.217. “Jika IHSG mampu bertahan di atas level 8.200-8.217 dengan didukung volume, maka sinyal bullish akan semakin kuat,” ujarnya di Jakarta.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per September 2025 mencatatkan penurunan menjadi USD 148,7 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan USD 150,7 miliar pada Agustus 2025 dan merupakan level terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini dipicu oleh pembayaran utang pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Dari arena global, penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat telah memasuki pekan kedua. Situasi ini menyebabkan penundaan rilis data ekonomi utama, yang berpotensi mempersulit pasar keuangan dan pembuat kebijakan The Fed dalam memperkirakan arah suku bunga AS di masa mendatang. Presiden AS Donald Trump dilaporkan terbuka untuk kesepakatan pendanaan layanan kesehatan yang dituntut oleh Partai Demokrat.

Kondisi ini memaksa pelaku pasar dan pejabat The Fed untuk mencari data alternatif, seringkali dari sumber swasta. Pada perdagangan Selasa (07/10), bursa saham di Wall Street, AS, mayoritas ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 91,99 poin atau 0,20 persen ke level 46.602,98, diikuti indeks S&P 500 yang melemah 0,38 persen ke 6.714,59, dan indeks Nasdaq Composite turun 0,67 persen ke 22.788,36.

Sementara itu, bursa saham Eropa pada perdagangan Selasa (07/10) mayoritas menguat, meskipun Euro Stoxx 50 melemah 0,33 persen. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,05 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,03 persen, dan indeks CAC Prancis juga menguat 0,04 persen.

Di kawasan Asia, bursa saham regional pada pagi ini menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei Jepang menguat 30,12 poin atau 0,07 persen ke 47.976,00 dan indeks Shanghai Tiongkok naik 20,25 poin atau 0,52 persen ke 3.882,78. Namun, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 257,77 poin atau 0,95 persen ke 26.708,50, dan indeks Strait Times Singapura turun 16,98 poin atau 0,38 persen ke 4.455,07.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.