SELATPANJANG – Pada 27 Oktober 2025 menjadi hari bahagia bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN). Karena, perusahaan plat merah tersebut merayakan hari ulang tahun yang ke-80.

Seharusnya 80 tahun, menjadi usia yang sudah sangat matang. Sudah lebih bijak. Sudah lebih baik. Bahkan sudah lebih mapan.

Namun nyatanya, tidak demikian. PLN masih mengaku merugi, masih mengaku belum lebih baik, dan lain sebagainya.

Di satu daerah terpencil di Provinsi Riau di momentum ulang tahun kemarin, bukan kemeriahan perayaan, atau euforia pelayanan lebih baik bagi masyarakat yang terjadi.

Tetapi, ketidak puasan masyarakat atas layanan kelistrikan di daerah tersebut.

Daerah itu bernama Selatpanjang. Ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti. Posisinya berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Riau, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Sebagai beranda terdepan negeri harusnya menunjukkan keperkasaan dan kemandirian Indonesia di mata Malaysia. Karena berada di depan mata tetangga.

Nyatanya malah sebaliknya. Bahkan ada jokes dari pelaut yang melintas di Selat Malaka, “bagian sisi daratan yang terlihat terang dan terlihat maju adalah Malaysia, tapi di sisi sebaliknya, daratan yang terlihat gelap gulita, itulah Indonesia (Kepulauan Meranti).

Saat momentum HUT PLN di Selatpanjang, jadi ajang masyarakat menyampaikan keresahan. Keresahan atas kondisi kelistrikan.

Dimana karena kekurangan daya, terpaksa harus membuat kebijakan pemadaman bergilir. Pemadaman pun dilakukan berulang kali. Walaupun sejumlah pemadaman dengan pemberitahuan, namun beberapa kali secara mendadak tanpa informasi.

Akibatnya, pada Jum’at (24/10/3025) ratusan masyarakat mendatangi Kantor PLN ULP Selatpanjang. Mereka menggeruduk dan mempertanyakan kenapa listrik terjadi pemadaman berulang kali dan dilakukan pada momentum masyarakat sedang beribadah.

Hingga pukul 21.30 Wib, setelah polisi dan perwakilan Pemkab Meranti hadir, baru bisa membantu meredakan emosi masyarakat yang saat itu memuncak. Beruntung objek vital negara tersebut (Kantor PLN) tidak dirusak.

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 4 Februari 2014. Saat itu Kantor PLN ULP Selatpanjang dilempari batu dan berhasil memecahkan kaca kantor. Walaupun sudah sempat diteriakkan, untung saja tidak dibakar.

Kejadian itu harusnya menjadi pelajaran dan evaluasi² bagi PLN untuk dapat mengelola kelistrikan di daerah secara lebih baik dan transparan. Sehingga gejolak bisa dihindari.

Walaupun masyarakat Selatpanjang sudah membubarkan diri, namun keresahan masih belum reda. Pihak PLN berusaha menjanjikan kondisi listrik di Selatpanjang akan kembali normal dalam 10 hari kedepan.

Pada Sabtu (25/10/2025) rapat yang difasilitasi Pemkab Meranti dilakukan. Tentunya juga menghadirkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat.

Selain janji, pihak PLN berusaha membuat jadwal pemadaman yang lebih adil. Sehingga masyarakat bisa menerima dengan baik.

Tepat Senin (27/10/2025), jika kantor PLN lain membuat acara peringatan dengan perayaan, di Kantor PLN ULP Selatpanjang sibuk berusaha memperbaiki kerusakan mesin. Sebab, sedang terjadi krisis yang membuat masyarakat menggeruduk Kantor PLN.

Mereka bekerja siang malam untuk mengejar target agar kelistrikan di Selatpanjang bisa normal secepatnya. Jika, tidak, kemarahan masyarakat sedang mengintai.

Kepada wartawan, Menejer PLN ULP Selatpanjang, Dalie Priasmoro menegaskan bahwa dalam perayaan 80 tahun PLN di ULP Selatpanjang tidak ada perayaan. Jika biasanya memberikan santunan, kali ini mereka fokus memperbaiki mesin.

Meski tidak ada perayaan, upaya mereka memperbaiki mesin membuahkan hasil. Dari 5 unit mesin yang mengalami kerusakan, sudah sudah membaik 4 unit mesin.

“Dari total 5 mesin yang rusak, 4 mesin sudah on. Makanya durasi pemadaman sudah mulai berkurang. Tetapi, tetap saja masih belum normal,”ungkap Dalie, Rabu (29/10/2025) malam.

Jika saat Hari Listrik Nasional kemarin durasi pemadaman hingga 12 jam sehari, kini sudah tinggal 3 jam sehari. Meski begitu, Dalie tidak ingin memastikan perbaikan itu sudah membuat stabil. Ia tidak ingin berjanji yang membuat masyarakat jadi sensi.

Selain perbaikan mesin, upaya lain dari PLN untuk menormalkan kembali persoalan listrik di Selatpanjang dengan mendatangkan 8 unit mesin lagi. Namun kedatangannya dilakukan 2 tahap.

“Tahap awal 4 mesin baru sudah di jalan. Sekarang sedang di Banyu Asin. Prediksi kita Jum’at atau paling lama Sabtu sudah sampai di Tanjung Buton, Siak. Dengan kapal tongkang akan tiba paling lama sehari setelahnya di Selatpanjang,”terang Dalie.

Dengan tambahan 4 mesin tersebut, dipastikannya listrik akan normal kembali tanpa pemadaman. Meski nantinya sudah normal, 4 mesin tambahan lagi akan dijadwalkan juga tiba.

“Total mesin tambahan nantinya 8 unit dengan kapasitas total 6,4 Mega Watt (MW). Tapi untuk normalisasi 4 unit dulu kita pastikan tiba dan terpasang sebelum 3 November 2025,” terangnya.

Lebih jauh, saat ini dengan perbaikan 4 dari 5 mesin yang rusak, total daya yang terpasang 11,3 MW. Jumlah yersebut masih kurang untuk menormalkan listrik dengan beban puncak 12.5 MW.

Walaupun upaya menjamin kelistrikan di Meranti, khususnya di Selatpanjang masih menjadi pekerjaan rumah bagi PLN, namun harapan besar daerah terhadapnya menjadi sangat besar dan sentral dalam mendorong kemajuan daerah. Mudah-mudahan jaminan kelistrikan daerah (Kepulauan Meranti) menjadi perhatian khusus di momentum Hari Listrik Nasional Tahun 2025.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.