Pariaman – Rangkaian kedua prosesi Hoyak Tabuik Piaman 2025, yang dikenal dengan nama Manabang Batang Pisang atau Maambiak Batang Pisang, berhasil terselenggara dengan sukses dan lancar. Prosesi ini merupakan bagian penting dalam persiapan perakitan tabuik.
Waktu pelaksanaan prosesi berlangsung di dua lokasi berbeda yang menjadi representasi dua kelompok tabuik. Untuk mewakili kelompok Tabuik Subarang, kegiatan dilaksanakan di Kampuang Kaliang, Kelurahan Lohong. Sementara itu, kelompok Tabuik Pasa memilih lokasi di Simpang Alai Gelombang, Kelurahan Alai Gelombang. Pemilihan lokasi ini secara simbolis merepresentasikan identitas dan wilayah masing-masing kelompok pendukung tabuik.
Sebelum batang pisang ditebang pada pukul 17.00 WIB, panitia terlebih dahulu melakukan penanaman batang pisang dan tebu di lokasi prosesi. Warga yang hadir menyambut kegiatan ini dengan antusias, mengarak pedang yang akan digunakan untuk menebang batang pisang dan tebu. Arakan pedang ini dipimpin langsung oleh orang tuo tabuik dan anak tabuik, diiringi oleh dentuman gandang tasa yang mengiringi langkah mereka menuju lokasi penebangan.
Ritual ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Pedang yang diarak melambangkan ketajaman senjata yang digunakan dalam pertempuran Karbala, sementara batang pisang dan tebu menjadi simbol tuntutan atas gugurnya Sayyidina Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam tragedi tersebut. Panitia menyatakan, “Prosesi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi dari nilai-nilai sejarah dan spiritual,” pada Jumat (27/6/2025).
Untuk kelompok Tabuik Pasa, penebangan batang pisang dimulai setelah salat Magrib, sekitar pukul 18.30 WIB. Usai prosesi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju daraga—tempat perakitan tabuik—sambil tetap membawa gandang tasa. Dalam perjalanan, sering terjadi momen “basalisiah” atau perselisihan simbolis antara kedua kelompok tabuik di Simpang Tugu Tabuik. Momen ini menggambarkan ketegangan yang kemudian diikuti dengan perdamaian, sebelum akhirnya masing-masing kelompok kembali melanjutkan perjalanan menuju daraga mereka.
Batang pisang yang telah ditebang tidak dibuang, melainkan disimpan di rumah tabuik oleh masyarakat. Penyimpanan ini menjadi bagian penting dari rangkaian pembuatan struktur utama tabuik dan sekaligus sebagai penanda bahwa tahapan krusial dalam prosesi telah berhasil dilaksanakan.










