Jakarta – Kinerja emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) diproyeksikan melonjak signifikan pada tahun 2026. Laba bersih HMSP diperkirakan meningkat sekitar 41% menjadi Rp 8,07 triliun pada tahun tersebut, naik dari perkiraan laba bersih tahun 2025 yang mencapai Rp 5,71 triliun.
Peningkatan laba bersih dua digit ini didukung oleh pembekuan tarif cukai dan pemberantasan rokok ilegal. Selain itu, serangkaian stimulus fiskal dari Kementerian Keuangan dinilai pro-industri dan konsumsi rokok.
Program populis pemerintah diharapkan mampu meningkatkan sentimen ekonomi secara umum dan mendukung pemulihan daya beli masyarakat. Hal ini menjadi katalis utama bagi rebound volume penjualan yang berkelanjutan di tahun mendatang.
Pendapatan HMSP juga diprediksi akan meningkat menjadi Rp 122,11 triliun pada tahun 2026, dari estimasi tahun 2025 senilai Rp 117,32 triliun. Kombinasi pembatalan kenaikan cukai tembakau dan peningkatan penegakan hukum pada rokok ilegal dapat mengarahkan kembali permintaan ke pemain legal, mempersempit kesenjangan harga eceran, serta mengurangi ketergantungan pada promosi implisit.
Prospek kinerja HMSP diperkirakan naik signifikan pada 2026 seiring kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan Harga Jual Eceran (HJE) dan Cukai Hasil Tembakau (CHT). Kebijakan ini akan menjadi katalis utama bagi pemulihan margin laba dan volume penjualan yang sempat tertekan beberapa tahun terakhir.
Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap peredaran rokok ilegal juga berpotensi mengalihkan kembali permintaan ke produsen resmi seperti HMSP. Langkah ini mempersempit selisih harga dengan produk ilegal, serta memperkuat posisi kompetitif di pasar. Dengan struktur biaya yang lebih efisien dan stabilitas regulasi yang terjaga, 2026 diprediksi akan menjadi fase pemulihan berkelanjutan, tidak hanya secara volume tetapi juga dari sisi profitabilitas.
Dengan mempertimbangkan prospek pemulihan laba dan stabilitas kebijakan fiskal, saham HMSP direkomendasikan hold dengan target harga Rp 850 per saham. Sementara itu, saham HMSP juga direkomendasikan beli di target harga Rp 850 per saham, mencerminkan valuasi PE 17,3 kali dan PBV 3,7 kali untuk tahun 2025, serta PE 12,2 kali dan PBV 3,4 kali pada tahun 2026.
Meskipun demikian, terdapat sejumlah potensi risiko penurunan kinerja. Risiko tersebut meliputi daya beli masyarakat yang masih lemah dalam jangka panjang, penegakan hukum terhadap rokok ilegal yang belum konsisten, kemungkinan penerapan kebijakan cukai tembakau yang lebih ketat dari perkiraan, serta tingkat persaingan harga yang semakin intensif.











