Solo – Kritik terhadap kebijakan naturalisasi pemain keturunan untuk Timnas Wanita Indonesia terus bergulir. Pelatih berlisensi UEFA B+, Heidi Scheunemann, menilai bahwa langkah ini dapat menghancurkan motivasi pemain lokal.

Heidi, yang telah berkecimpung dalam pembinaan sepak bola wanita di Papua selama lebih dari 26 tahun, menegaskan bahwa ketergantungan pada pemain dari luar negeri bukanlah cara yang tepat untuk membangun timnas yang solid.

“Saya sangat tidak setuju, karena menghancurkan motivasi dari anak-anak, juga dari pelatih SSB yang sudah berusaha untuk kembangkan skill dan motivasi dan semangat dan mental anak-anak,” ujarnya di Solo, Jawa Tengah, Kamis (21/8).

Menurut Heidi, langkah instan ini hanya akan memberikan hasil sementara, bukan peningkatan jangka panjang. Ia menekankan pentingnya pembinaan usia dini sebagai fondasi utama pembentukan timnas yang kuat.

“Itu hanya dibuat kalau mau instan, ini sebentar naik, nanti turun lagi. Karena hanya bisa konsisten naik kalau ada dari bawah, terus menerus ada yang naik lagi,” tambahnya.

Kehadiran pemain keturunan, lanjut Heidi, juga bisa mematahkan harapan pemain lokal yang telah berlatih keras untuk membela Garuda Pertiwi.

“Kasihan anak-anak yang selama ini latihan, latihan, latihan yang harap untuk nanti satu saat masuk timnas, tiba-tiba ada diberikan pesan seperti kalian tidak cukup bagus, kita perlu ambil pemain dari luar negeri. Itu sangat menghancurkan semangat dari anak-anak,” ungkapnya.

Heidi menyarankan PSSI untuk berinvestasi pada akademi sepak bola di delapan kota besar. Dengan demikian, sistem kompetisi yang baik akan terbentuk dan memunculkan bibit-bibit pemain baru secara berkelanjutan.

Dalam setahun terakhir, Timnas Wanita Indonesia memang gencar mendatangkan pemain keturunan. Tercatat ada tujuh nama yang telah bergabung, yaitu Noa Leatomu, Estella Loupatty, Sydney Hopper, Katarina Stalin, Isa Warps, Felicia de Zeeuw, Emily Nahon, dan Iris de Rouw.

Selain itu, tiga pemain keturunan Belanda lainnya, yaitu Isabel Kopp, Isabelle Nottet, dan Pauline van de Pol, juga sedang menunggu proses naturalisasi. Ketiganya sempat mengikuti trial bersama Garuda Pertiwi pada Juni lalu.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.