Jakarta – Pemerintah berupaya mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji 2026 yang lebih inklusif dengan meningkatkan jumlah petugas haji perempuan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap proyeksi peningkatan jumlah jemaah haji perempuan yang diperkirakan akan mendominasi, mencapai lebih dari 50 persen dari total jemaah.
Dalam kegiatan Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Alissa Wahid, yang pernah menjabat sebagai Anggota Amirul Hajj Perempuan, menyampaikan apresiasi atas penambahan petugas haji perempuan. “Kita sangat senang jumlah petugas haji perempuan terus ditambah, karena kebutuhannya memang real, terutama pembimbing ibadah perempuan,” ujarnya. Ia juga menekankan perlunya pemerintah mempertimbangkan fasilitas yang dibutuhkan perempuan.
Wahid menyoroti dua tantangan utama yang dihadapi jemaah perempuan, yaitu terkait dengan pengalaman hidup perempuan, termasuk siklus reproduksi, dan belum semua fasilitas haji ramah perempuan. Ia menjelaskan bahwa salah satu isu penting adalah “siklus reproduksi. Perempuan ada datang bulan.” Selain itu, ia juga menyinggung perbedaan kebutuhan perlengkapan ibadah haji antara perempuan dan laki-laki, seperti perbedaan jumlah lapisan pakaian ihram.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyatakan komitmennya untuk menyelenggarakan Haji 2026 yang ramah perempuan. Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menekankan pentingnya pemahaman petugas haji terhadap kebutuhan jemaah perempuan. Ia mencontohkan, “Di sana itu ramai, orang kita badannya kecil, paling tidak, misalnya saat beribadah, kita (petugas haji) membuat lingkaran untuk melindungi jemaah perempuan.” Ia menegaskan bahwa petugas haji harus memahami hal-hal seperti itu.
Chandra menambahkan bahwa petugas haji harus proaktif dalam membantu jemaah perempuan yang seringkali merasa enggan untuk bertanya. “Kita (petugas haji) sudah harus membaca, langsung punya feeling, bilang, ‘Maaf ibu, kalau membutuhkan kamar kecil, ada di sebelah sana. Atau, ‘Ibu, kalau air minum kita sudah siapkan di sebelah sini,” jelasnya.
Pemerintah telah melampaui target awal dengan mencapai 33,2 persen petugas haji perempuan pada 2026, melebihi target yang ditetapkan sebesar 30 persen. Wahid menceritakan pengalamannya sebagai petugas haji, di mana ia dan beberapa petugas membuat kebijakan terkait penggunaan setengah kamar mandi laki-laki untuk jemaah perempuan. “Karena meski jumlah kamar mandinya itu sama, sementara proses jemaah haji perempuan di kamar mandi berbeda dengan laki-laki. Mau-nggak mau, kita harus membuat kebijakan-kebijakan spontan, on the spot di lapangan. Yang kayak gitu-gitu perlu direspons secara sistematis,” pungkasnya.










