PADANG-Di saat sekarang, era digital, setiap orang bisa jadi wartawan, atau malah bisa sangat wartawan dari wartawan media mainstream yang ada. Teknologi sudah memudahkannya, cukup dengan hape dan media sosial, seseorang bisa mewartakan kejadian.

Tapi tentu hal ini tidak begitu saja, dan tidak bisa sembarangan, karena dalam dunia jurnalistik ada hal-hal yang penting untuk diterapkan dalam proses-proses pembuatan berita hingga akhirnya tayang.

Pewarta pun harus paham formula dasar dalam menuliskan berita, yakni 5 W + 1 H, yang tetap menjadikan patokan hingga saat ini sehingga kejadian layak menjadi sebuah produk berita.

Tak dipungkiri, cukup banyak muncul di media sosial satu konten yang menyampaikan visual kejadian. Informasi kapan pun menjadi sesuatu yang paling luput untuk disampaikan. Visual yang bisa jadi kemudian dibingkai lagi menjadi peristiwa yang seolah baru saja terjadi.

Informasi di era digital adalah data dan pengetahuan yang diakses, disebarkan, dan diubah dengan cepat melalui teknologi digital seperti internet, komputer, dan perangkat seluler. Era ini memberikan manfaat besar seperti komunikasi instan dan efisiensi kerja, namun juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, information overload, dan kebutuhan literasi informasi yang kuat untuk memilah informasi yang akurat.

Jurnalis TV, Jamalul Insan mengatakan, memang saat ini kondisi jurnalisme kita sudah jauh berubah dan penuh kemudahan. Di satu sisi juga memaksa wartawan untuk beradaptasi.

“Semua orang kini punya peluang yang sama menyampaikan informasi. Mendistribusikan informasi kini sangat terbuka,” kata Jamalul yang pernah aktif sebagai jurnalis RCTI sejak 1995 ini dalam kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025, beberapa waktu lalu.

Jamalul juga menyebut, dengan perkembangan teknologi informasi dan kemudahan perlengkapan jurnalistik lewat gawai, fenomena yang terjadi adalah saat semua merasa reporter dan produser konten.

“Apapun yang ada, dicemplungin. Apa yang dilihat direport aja. Tanpa proses untuk menjadikannya berita yang layak. Begitu juga, semua merasa konten produser, yang apapun diproduksi,” katanya.

Hal ini, menurutnya, akan berdampak pada semakin besarnya peluang hadirnya Informasi yang tidak sesuai fakta, atau malah ditambah-tambah sehingga menjadi hoaks, yang bahkan berpengaruh buruk bagi pembacanya.

“Ada proses yang harus dilakukan, tidak hanya menyebarkan visual-visual,” ujar Jamalul.

Pria yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pers ini juga melihat ada yang cukup mencolok antara pertumbuhan jurnalis dengan yang telah terverifikasi Dewan Pers.

Dia menyebut, hingga 2024 jumlah wartawan yang sudah terverifikasi Dewan Pers berjumlah 29.661 orang. Sebagian besar berstatus wartawan muda, jumlahnya 19 ribuan. Sedangkan untuk wartawan utama baru 4.685 orang.

Malah katanya yang mengaku wartawan lebih banyak jumlahnya, yang mencapai 100 ribu orang. Angka ini cukup banyak karena menurut Jamalul banyak pihak yang hanya ingin mengambil privilege-nya, tapi tidak untuk tanggung jawabnya.

“Sekarang satu orang punya lima media. Banyak sekali yang asal bikin, rekrut wartawan sembarangan. Tidak diberi bekal atau pelatihan, dan kemudian niru-niru. Yang ditiru bukan yang standar sehingga lama kelamaan kualitas semakin menurun. Uji kompetensi jadi langkah awal untuk membenahi,” ulasnya.

Sementara itu, Fransiskus Surdiasis, Anggota Komite Tanggung Jawab
Perusahaan Platform Digital untuk
Jurnalisme Berkualitas, melihat kondisi jurnalisme saat ini bahwa informasi tak lagi cukup, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian untuk mencapai jurnalisme berkualitas.

“Informasi melimpah, konsekuensinya, situasi ini paradoks, kita menjadi sulit menentukan mana yang sungguh berarti,” kata Frans dalam sesi kelas daring JFC 2025 batch 2, Rabu (10/9).

Frans menerangkan, bahwa ada dua tugas jurnalis, mendudukkan persoalan dan mencari solusi.

Dalam mencari solusi ini, wartawan bukan beropini tapi mendorong stakeholder terkait dan pihak lain-lain untuk mendiskusikannya, sehingga timbul jalan keluar yang bisa diambil.

Menurut Frans, semakin melimpahnya informasi, maka cara agar jurnalistik tetap terjaga adalah dengan mengedepankan prinsip jurnalisme data dalam peliputan.

“Lingkungan kini makin kompleks. Statement saja tidak cukup. Kita butuh alat ukur. Dengan segala perkembangannya, jurnalis bukan lagi hanya information provider, tapi mampu menampilkan gambaran yang sesungguhnya,” kata Tim Ahli Indeks Keterbukaan Informasi Publik, Komisi Informasi ini.

Ia juga menyebut, di tengah lingkungan informasi yang makin kompleks, wartawan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan nose for news atau insting berita.

“Kita butuh memahami dunia yang kompleks itu melalui alat bantu yang lain, data. Misalnya, apakah kualitas
pendidikan kita makin baik? Apakah pemerintah berhasil menangani masalah
stunting?” paparnya.

Frans juga menekankan bagaimana saat ini wartawan bukan saja mencari data tapi juga harus punya kemampuan mengelola data. Menurutnya ini sudah menjadi ‘tugas’ baru jurnalis ketika informasi melimpah.

“Sudah harus mampu menghubungkan pola dari data yang diperoleh,” katanya, yang dengan pengolahan informasi akan mencapai pengetahuan, dan akumulasi semua itu bisa membawa menuju wisdom atau kebijaksanaan.

Nurcholis MA Basyari, Ahli Dewan Pers yang juga pendiri dan Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) memandang dunia sekarang sudah serba melek media. Maka penting kembali disiplin sebagai wartawan dengan jurnalisme berkualitas.

Nurcholis melihat, media pers saat sebelum ada teknologi punya keterbatasan ruang untuk menampilkan berita-berita. Seperti koran yang berkisar belasan halaman saja. Sehingga dengan begitu banyaknya kejadian setiap harinya, tapi tidak semua yang bisa dimuat oleh media, ada penyaringan berdasarkan nilai berita, seberapa penting atau menariknya berita tersebut.

Dia juga menekankan bahwa kerja jurnalistik tidak sama dengan YouTuber, TikTokers, dan pegiat media sosial lainnya.

“Wartawan pun jangan sampai terjebak mengikuti gaya youtuber dan lainnya itu,. Karena ada pembeda, antara produk media pers dan konten media sosial,” katanya.

Dia juga menekankan soal fungsi jurnalis yang bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga bisa menghasilkan produk jurnalistik yang berisi edukasi dan menginspirasi.

Seperti halnya menurut UU Pers No.40/1999, pers hadir sebagai media informasi, media pendidikan, media hiburan, kontrol sosial dan lembaga ekonomi.

Nurcholis juga menekankan bahwa menegakkan jurnalisme berkualitas adalah cara agar bagaimana marwah jurnalisme Indonesia tetap terjaga, yang dengan sendirinya juga menjadi tameng dari serangan berkelimpahan informasi di saat sekarang ini yang membuat kebenaran menjadi kabur. (w)

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.