Di era digital seperti sekarang, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dari ponsel pintar hingga aplikasi belajar, AI hadir membantu manusia dalam berbagai aktivitas,termasuk dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Lalu, bagaimana nasib guru Bahasa Inggris di tengah revolusi ini? Apakah perannya akan tergantikan oleh mesin?
Jawabannya justru sebaliknya: peran guru sangat penting, tak tergantikan dan strategis.
Dahulu, belajar Bahasa Inggris identik dengan buku paket, kamus tebal, LKS (Lembar Kerja Siswa), dan latihan tertulis di kelas. Kini, siswa bisa berlatih speaking lewat aplikasi pengenal suara, memperbaiki tulisan menggunakan AI, bahkan berlatih percakapan dengan chatbot. Pembelajaran menjadi lebih cepat, fleksibel, dan personal. Ketika mengerjakan tugas tata bahasa siswa juga dapat bertanya dan mendapatkan jawaban dengan bantuan AI seperti Chat GPT, Gemini, Cici dan aplikasi AI lainnya. Tetapi dalam bahasa Inggris, kemampuan bahasa siswa tetap akan terlihat ketika siswa berbicara menggunakan bahasa Inggris ataupun ketika menulis. Ketika tulisan siswa sempurna tidak ada kesalahan dalam tata bahasa, dapat disimpulkan siswa menggunakan AI. Hal ini karena kemampuan bahasa seseorang terbentuk melalui proses latihan yang panjang dan bertahap, sehingga wajar jika masih terdapat kesalahan dalam penggunaan struktur kalimat, kosa kata, maupun tanda baca. Oleh sebab itu, peran guru sangat penting untuk tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga mengamati proses belajar siswa agar penggunaan AI tetap berada pada fungsi yang benar sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti usaha belajar.
Seorang guru SMA menggunakan aplikasi AI berbasis speech recognition untuk melatih speaking siswa. Siswa diminta membaca dialog pendek, lalu aplikasi menilai kejelasan
pengucapan mereka. Guru berperan untuk membimbing, menjelaskan kesalahan yang sering muncul (misalnya bunyi /θ/ dan /ð/), serta memberi contoh pengucapan yang benar secara langsung. AI disini dapat memberikan pelajaran dan manfaat bagi siswa yaitu; berani berlatih karena tidak takut ditertawakan dan dapat mengulang latihan secara mandiri di rumah.
Secanggih apa pun AI, ia tetaplah alat. AI mampu memberi koreksi, menjawab pertanyaan, dan menyajikan materi, tetapi tidak mampu menggantikan peran manusia dalam membangun hubungan emosional, motivasi, dan karakter siswa. AI bisa menghasilkan apapun itu sesuai dari instruksi dan otak dari orang yang menggunakannya. Hasilnya akan berbeda jika diberikan instruksi yang berbeda oleh setiap siswa. kecerdasan buatan berupa AI ini dapat dijadikan sebagai teman diskusi oleh siswa tapi bukan sebagai sumber untuk semua pengganti setiap tugas yang diberikan oleh guru. Hubungan emosional siswa dan psikologi akan terbentuk ketika dia membaca sebuah buku tetapi dengan AI karena prosesnya sangat cepat dan mudah, maka hasilnya tidak akan lama dan melekat pada otak dan hati siswa. Secara psikologi bacaan yang bersumber dari buku memberikan efek yang lebih mendalam, seperti melatih fokus, kesabaran, dan kemampuan berpikir kritis, yang sangat penting dalam pembentukan karakter belajar siswa.
Contohnya, pengalaman ketika saya sebagai seorang guru SMP di daerah pedalaman di suatu provinsi di Indonesia, ketika materi Speaking setiap siswa diberi tugas untuk tampil secara Role Play didepan kelas, banyak siswa yang tidak berani untuk tampil berdiri didepan kelas, karena takut salah saat berbicara Bahasa Inggris. Meskipun mereka bisa berlatih dengan aplikasi, keberanian mereka tumbuh justru ketika guru memberikan dukungan langsung, memuji usaha mereka, dan menciptakan suasana kelas yang aman tanpa ejekan ketika mereka salah dalam mengucapkan kata. Semangat dan pujian yang diberikan oleh guru membentuk keberanian, pengalaman, dan kepercayaan diri siswa. Sehinggan siswa tidak akan takut lagi tampil dan berbicara bahasa Inggris di sepan kelas. Dukungan emosional inilah yang tidak bisa diberikan oleh AI.
Tidak dapat dipungkiri, masih banyak guru yang menghadapi kendala dalam penggunaan teknologi. Keterbatasan kemampuan digital, infrastruktur yang belum merata, hingga kekhawatiran akan penyalahgunaan AI oleh siswa menjadi persoalan nyata di lapangan. Ada berbagai tantangan dan kendala dari penggunaan AI bagi guru dan siswa;
1. Kesenjangan Literasi Digital
Tidak semua guru memiliki kemampuan yang sama dalam menggunakan teknologi dan AI. Sebagian guru masih kesulitan mengoperasikan aplikasi pembelajaran, memahami cara kerja AI, atau memanfaatkannya secara maksimal dalam mengajar. Akibatnya, pembelajaran berbasis AI tidak berjalan optimal, bahkan bisa menimbulkan ketimpangan kualitas pembelajaran antarkelas atau antarsekolah.
2. Penyalahgunaan AI oleh Siswa
Siswa dapat dengan mudah menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, menulis esai, menerjemahkan teks, bahkan menjawab soal tanpa melalui proses berpikir sendiri. Hal ini dapat membuat siswa tidak melatih daya otaknya untuk berfikir sehingga akan menurunkan daya ingat siswa, berkurangnya cara berfikir kritis siswa, dan guru sulit menilai kemampuan siswa yang sebenranya.
3. Menurunnya Proses Berpikir dan Daya Juang Siswa
Karena AI menyajikan jawaban secara instan, sebagian siswa menjadi kurang terbiasa berproses, menganalisis, dan berusaha mencari solusi sendiri. Sehingga, siswa cenderung bergantung pada teknologi dan kurang mandiri dalam belajar.
4. Perubahan Peran Guru yang Cepat
Guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi, tetapi harus menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengarah penggunaan teknologi. Guru juga harus cerdas dan melek teknologi sehingga juga dapat mengimbangi perkembangan teknologi siswa.
5. Masalah Etika dan Kejujuran Akademik
Penggunaan AI menimbulkan masalah baru dalam etika pendidikan, seperti plagiarisme, manipulasi tugas, dan ketergantungan berlebihan pada teknologi. Dalam dunia pendidikan salah satu kejahatan akademik adalah plagiarism. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas siswa terancam menurun jika tanpa pengawasan.
6. Keterbatasan Sarana dan Infrastruktur
Tidak semua sekolah memiliki akses internet yang stabil, perangkat digital yang memadai, dan fasilitas teknologi pendukung. Sehingga penggunaan AI tidak merata pada seluruh sekolah dan siswa yang ada di Indonesia.
7. Beban Kerja Guru yang Bertambah
Selain mengajar, guru juga harus mempelajari teknologi baru, menyiapkan materi berbasis digital, memantau penggunaan AI siswa, serta mengantisipasi penyalahgunaan AI. Beban kerja yang berlebihan akan menguragi kinerja guru karena terlalu banyak tugas administrasi yang harus diselesaikan oleh guru. Sehinggan focus utama guru kesiswa menjadi menurun.
8. Tantangan Psikologis dan Sosial
Interaksi belajar yang semakin bergeser ke layar berpotensi mengurangi interaksi sosial langsung antara guru dan siswa. Ikatan emosional guru dan siswa menjadi berkurang Karena siswa terlalu bergantung dengan teknologi.
Menghadapi era AI, guru dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Menguasai teknologi bukan berarti harus menjadi ahli IT, tetapi cukup mampu memanfaatkan AI secara sederhana dan fungsional dalam pembelajaran. Guru dapat menggunakan AI untuk membantu merancang materi ajar, membuat soal latihan, memberikan umpan balik terhadap tulisan siswa, hingga menciptakan variasi aktivitas speaking di kelas. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus berada di bawah kendali guru agar selaras dengan tujuan pembelajaran. Sikap terbuka terhadap perubahan, kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi digital, serta kemampuan memadukan teknologi dengan pendekatan humanis menjadi kunci utama agar guru Bahasa Inggris tetap relevan, profesional, dan berdaya di tengah revolusi AI.
Revolusi AI telah mengubah wajah pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi tidak menghilangkan peran guru. Justru melalui berbagai contoh di sekolah, terlihat jelas bahwa guru tetap menjadi tokoh utama yang membimbing, mengarahkan, dan membentuk karakter siswa, sementara AI berperan sebagai alat pendukung. Di tengah kecanggihan teknologi, sentuhan manusia dalam pendidikan tetap menjadi kunci utama keberhasilan belajar. (*)












