Padang – Warga Sumatera Barat (Sumbar) diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Peringatan ini dikeluarkan menyusul pengumuman cuaca ekstrem dari BMKG.

BMKG mengeluarkan peringatan dini gawat darurat hidrometeorologi yang berlaku hingga 27 November 2025. Hujan lebat, banjir, dan tanah longsor mengintai sejumlah wilayah.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan keselamatan warga adalah prioritas. Ia menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk bersiaga.

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor,” kata Mahyeldi, Minggu (23/11).

Penguatan Monsun Asia menjadi salah satu pemicu peningkatan risiko hidrometeorologi. Massa udara lembap dari Samudra Hindia terbawa hingga Sumbar.

Kondisi ini diperparah dengan topografi Pegunungan Bukit Barisan yang memicu pembentukan awan hujan lebat. Fenomena IOD negatif dan aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial turut memperkuat pertumbuhan awan konvektif.

Banjir, tanah longsor, angin kencang, petir, dan jalan licin menjadi ancaman nyata.

BMKG menetapkan 14 kabupaten/kota di Sumbar berstatus siaga penuh. Daerah-daerah tersebut meliputi Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Sijunjung, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Solok, Dharmasraya, Solok Selatan, dan Lima Puluh Kota.

Pemerintah kabupaten/kota diminta meningkatkan kesiapsiagaan melalui BPBD. Pemantauan, personel, peralatan, dan jalur evakuasi harus dipastikan berfungsi.

Warga yang tinggal di lereng bukit, bantaran sungai, dan kawasan rawan longsor diimbau waspada. Siapkan tas siaga dan pahami jalur evakuasi.

Masyarakat diminta aktif memantau informasi dari sumber resmi seperti BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.