Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS) terus mengubah dinamika perekonomian global. Ketegangan politik global yang berlanjut, tanpa kepastian kapan berakhir, membuat prospek ekonomi global diperkirakan masih suram hingga 2027.

Perry menyampaikan hal tersebut dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Jumat (28/11). Ia menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menghadapi situasi ini.

Menurut Perry, prospek ekonomi global saat ini ditandai oleh lima karakteristik utama:

1. Berlanjutnya kebijakan tarif AS yang menekan perdagangan dunia, seiring melemahnya multilateralisme. Kerja sama bilateral dan regional justru menguat.

2. Pertumbuhan ekonomi dunia melambat, terutama di AS dan Tiongkok. Sementara Uni Eropa, India, dan Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup baik. Penurunan inflasi yang lebih lambat menyulitkan kebijakan moneter bank sentral.

3. Tingginya utang pemerintah dan suku bunga di negara maju menyebabkan tekanan fiskal, yang pada akhirnya membebani negara-negara berkembang.

4. Meningkatnya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia akibat lonjakan transaksi produk derivatif, terutama yang melibatkan hedge fund berisiko tinggi. Hal ini dapat memicu arus keluar modal dan tekanan ke pasar negara berkembang.

5. Maraknya uang kripto dan stable coin yang belum memiliki pengaturan dan pengawasan yang jelas. Hal ini menekankan perlunya Central Bank Digital Currency (CBDC).

Menghadapi kelima karakteristik tersebut, Perry menegaskan Indonesia perlu respons kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, serta memastikan ketahanan ekonomi yang kuat dan mandiri.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.