Jakarta – Pebulu tangkis tunggal putri andalan Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, masih berjuang keras untuk menemukan kembali performa terbaiknya. Atlet yang akrab disapa Jorji ini mengakui kesulitan bersaing di level elite setelah menderita vertigo serius sejak April 2025. Akibatnya, ia terlempar dari sepuluh besar ranking BWF dunia.

Kondisi ini membuat Jorji absen di sejumlah turnamen BWF World Tour 2025 seperti Thailand Open, Malaysia Masters, Singapore Open, dan Indonesia Open. Setelah sempat menunjukkan asa di perempat final China Open 2025, vertigo kembali menyerang di Kejuaraan Dunia 2025, memaksanya mundur dari beberapa agenda tur Asia.

Periode tak bersahabat terus berlanjut di tur Eropa, di mana Jorji langsung gugur di babak pertama French Open dan Denmark Open. Kegagalan ini, menurutnya, berdampak signifikan pada mental dan penampilannya di lapangan.

Ditemui di Pelatnas PBSI, Rabu (5/11), Gregoria menyatakan kondisinya sudah membaik dan tidak ada kambuh-kambuhan lagi. Namun, ia mengakui performanya belum kembali seperti semula. “Untuk kondisi oke sih. Enggak ada kambuh-kambuhan lagi. Latihan juga sama kan. Cuma memang evaluasi dua pertandingan kemarin sih aku rasa jauh, karena penampilan yang pengen aku tampilkan juga kayak enggak sesuai harapan,” kata Gregoria.

Pebulu tangkis yang merupakan istri dari musisi Mikha Angelo ini menyoroti inkonsistensinya di lapangan. “Aku terlalu gampang untuk buang poin dan aku kayak gampang banget untuk panik gitu sih. Mungkin aku berharap menargetkan diriku bisa main bagus atau bisa menang, cuma jadinya kayak terlalu banyak yang dipikirin sampai pas main pun aku jadinya enggak fokus ke permainan kayak malah ke hasil gitu,” tambahnya.

Jorji menjelaskan bahwa penyakit vertigo menjadi salah satu penyebab utama kemundurannya. Saat vertigo kambuh, ia tak bisa berlatih intensif di lapangan. “Karena kemaren stopnya cukup lama dan beneran ga bisa apa-apa gitu lho. Jadi untuk mulainya pun aku kayak harus ngejarnya tuh enggak cuma fisik aja tapi pola permainanku, pukulanku,” terangnya.

Ia melanjutkan, lamanya tidak memegang raket sangat berpengaruh pada feeling dan kepercayaan diri dalam menerapkan pola permainan yang tadinya dikuasai. Hal ini menimbulkan kehati-hatian dan rasa takut kambuh kembali.

Kini, Gregoria mengaku sudah tidak takut atau trauma lagi. Latihan pun sudah bisa normal seperti semula. Fokus utamanya adalah memperbaiki penampilan dan mengejar ketertinggalan dalam persaingan elite tunggal putri dunia.

Selanjutnya, Gregoria akan berlaga di Kumamoto Japan Masters 2025 (11-16 November) dan Australian Open 2025 (18-23 November). Ia menargetkan untuk bermain lebih baik dari saat tur Eropa lalu. “Secara permainan dan aku berharap secara hasil juga bisa lebih bagus dibandingkan dua turnamen kemarin dan bisa lebih bisa menunjukkan perubahan di lapangan, mental, fisik, cara bermain juga,” pungkasnya.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.