Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan kondisi geopolitik dan geoekonomi global menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga emas.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan harga emas di pasar internasional terus meningkat. Data PT Antam menunjukkan total penjualan emas Januari-September 2025 mencapai 34.164 kilogram atau setara 1.098.398 troy oz.

“Emas dianggap sebagai safe haven. Kondisi geopolitik dan geoekonomi global menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga emas karena investor mengalihkan aset ke emas,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah 2025 yang dipantau daring di Jakarta, Senin (17/11/2025).

Amalia menjelaskan, volume penjualan emas naik 20 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat 918.450 troy oz.

Dari sisi inflasi, rata-rata nasional emas perhiasan menyumbang inflasi 52,76 persen pada Oktober 2025. Sumatera Barat mencatat inflasi emas tertinggi, yaitu 62,83 persen, diikuti Sulawesi Selatan dengan 62,77 persen.

Amalia menambahkan, masyarakat Indonesia semakin sadar berinvestasi emas, sehingga komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang inflasi.

“Masyarakat Indonesia sudah mulai melihat bahwa emas adalah salah satu komoditas untuk berinvestasi,” katanya.

Harga emas Antam di laman Logam Mulia, Senin, menunjukkan kenaikan Rp3.000 dari Rp2.348.000 menjadi Rp2.351.000 per gram.

Harga jual kembali (buyback) juga naik menjadi Rp2.212.000 per gram, tersedia mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram (1.000 gram).

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.