Gaza – Sekitar 200.000 warga Palestina mulai kembali ke kota dan kampung mereka di Gaza utara. Kepulangan massal ini terjadi setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas secara resmi berlaku pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Peristiwa ini sekaligus menandai penarikan sebagian pasukan Israel dari wilayah Gaza, bagian dari tahap pertama perjanjian damai.

Saksi mata melaporkan pergerakan yang sangat padat di sepanjang jalan Al-Rashid dan Salah al-Din. Ribuan orang terlihat berjalan kaki atau berkendara, berbondong-bondong kembali menuju rumah-rumah mereka.

Kepulangan warga ke rumah mereka dilakukan setelah dua tahun serangan udara tanpa henti. Banyak di antara mereka yang menelusuri reruntuhan bangunan, menggali puing-puing untuk mencari anggota keluarga yang hilang dan jenazah korban.

Sedikitnya 135 jenazah ditemukan di berbagai lokasi di Gaza dalam beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai. Puluhan korban lain ditemukan di rumah sakit, termasuk 43 di Rumah Sakit al-Shifa dan 60 di al-Ahli Arab di Gaza City. Jenazah lainnya dibawa ke fasilitas medis di Nuseirat, Deir el-Balah, dan Khan Younis. Tim medis juga mencatat 19 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel pada Jumat pagi, beberapa jam sebelum gencatan berlaku, termasuk 16 anggota keluarga Ghaboun. Hingga kini, belum jelas apakah sebagian serangan terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata resmi diberlakukan pada tengah hari.

Jeda pertempuran ini memungkinkan tim penyelamat menjangkau wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat pengepungan. Para penyintas di distrik Zeitoun, Kota Gaza, pulang membawa barang seadanya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 90 persen bangunan di sana rusak atau hancur, dan layanan dasar lumpuh.

Bersamaan dengan berlakunya gencatan senjata, otoritas penjara Israel mulai memindahkan tahanan Palestina yang akan dibebaskan sesuai kesepakatan. Mereka yang berasal dari Gaza atau akan diusir melalui perbatasan Rafah dipindahkan ke Penjara Ketziot di Negev. Sementara tahanan dari Tepi Barat dikirim ke Penjara Ofer dekat Ramallah.

Pemindahan tahanan telah dimulai sejak Jumat malam sebagai bagian dari persiapan pertukaran tahanan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pejabat Israel menegaskan masih ada sekitar 12.000 warga Palestina yang ditahan, termasuk 700 di bawah tahanan militer dan 4.000 lainnya tidur tanpa ranjang di sel.

Militer Israel juga memerintahkan larangan perayaan pembebasan tahanan. Kepala Komando Pusat Avi Blot meminta pasukannya mencegah acara penyambutan di kota-kota Palestina. Dinas intelijen Shin Bet akan melakukan pembicaraan peringatan dengan keluarga tahanan untuk mencegah mereka menggelar acara publik.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyerukan agar seluruh jalur masuk ke Gaza dibuka, dengan menyebut 6.000 truk bantuan siap dikirim dalam hitungan jam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sandera Israel yang ditahan di Gaza akan dibebaskan pada Senin mendatang.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.