Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berupaya menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan minat siswa melalui pendirian Sekolah Garuda yang berfokus pada bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Inisiatif ini diharapkan dapat menghasilkan tenaga ahli yang kompeten di bidang STEM.
Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, menjelaskan bahwa penguatan STEM menjadi fondasi utama dalam pengembangan Sekolah Garuda. Ia menyoroti adanya kebutuhan mendesak akan ahli sains dan teknologi di Indonesia, terutama dalam mendukung program industrialisasi dan hilirisasi. “Lulusan perguruan tinggi kita belum didominasi bidang STEM, padahal kebutuhan industri sangat besar. Karena itu, ekosistemnya harus dimulai sejak SMA,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2).
Sekolah Garuda juga mengadopsi konsep the one percent rule, yang menekankan pentingnya negara memfasilitasi siswa dengan kemampuan unggul. Selama ini, kelompok siswa ini dinilai belum mendapatkan dukungan yang memadai. Najib menambahkan, “Sering kali ketika kita bicara inklusivitas, fokusnya pada kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya. Tapi ada komponen masyarakat yang sering terlewat, yaitu anak-anak yang sangat berbakat. Mereka jumlahnya kecil, tetapi potensinya besar.”
Selain itu, penempatan Sekolah Garuda di luar Pulau Jawa merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pemerataan pembangunan pendidikan nasional. Menurut Najib, langkah ini diambil karena “Sekolah ini tidak dibangun di Pulau Jawa, melainkan ditempatkan di wilayah yang memiliki potensi besar namun masih menghadapi tantangan dalam akses serta percepatan pembangunan pendidikan. Kita yakin banyak potensi di daerah yang tidak kalah dengan yang ada di Jawa.”
Ardi Findyartini, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kemdiktisaintek, menuturkan bahwa SMA Unggul Garuda memiliki empat kurikulum unggulan yang membedakannya dari sekolah lain.










