Villarreal – Kontroversi perwasitan kembali mengguncang La Liga setelah pertandingan antara Villarreal dan Barcelona di Estadio de la Ceramica. Laga yang awalnya sulit bagi Blaugrana justru berbalik menguntungkan berkat dua keputusan wasit krusial yang dinilai memicu tanda tanya besar.

Wasit Alberola Rojas menjadi sorotan utama setelah memberikan penalti kepada Barcelona menyusul jatuhnya Raphinha di kotak terlarang. Tidak berselang lama, situasi Villarreal semakin sulit ketika Renato Veiga menerima kartu merah akibat tekelnya terhadap Lamine Yamal.

Dua keputusan ini secara drastis mengubah jalannya pertandingan, yang awalnya dikuasai Villarreal dengan lebih banyak peluang berbahaya di babak pertama.

Keputusan wasit tersebut memicu kemarahan di kalangan penggemar sepak bola, khususnya fans Real Madrid. Banyak yang menilai bahwa Barcelona terlalu diuntungkan, bahkan muncul anggapan bahwa kartu merah semacam itu “hanya akan keluar jika pemain yang dilanggar berasal dari Barca”.

Standar Ganda yang Terasa Jelas tampak nyata dalam keputusan Alberola Rojas. Banyak pihak menuding wasit “menggelar karpet merah” bagi Barcelona, menunjukkan adanya standar ganda yang jelas dalam sepak bola Spanyol. Mereka meyakini, jika insiden serupa melibatkan Real Madrid, hasilnya akan sangat berbeda.

Perbandingan langsung mencuat dengan kejadian sebelumnya. Marcao, misalnya, tidak diganjar kartu merah meski melakukan tekel brutal dengan dua kaki terhadap Rodrygo. Sebaliknya, pelanggaran terhadap Lamine Yamal oleh Renato Veiga dianggap tidak bisa ditoleransi dan langsung berbuah kartu merah.

Bahkan, tekel keras yang sering diterima Vinicius Jr. dalam hampir setiap pertandingan kerap luput dari kartu merah. Kontak Veiga terhadap Yamal dinilai minim, hanya sedikit menginjak tumit Yamal karena terlambat datang. Logikanya, jika insiden seperti ini berbuah kartu merah, maka hampir setiap lawan Real Madrid seharusnya bermain dengan 10 orang.

Penalti untuk Raphinha Kembali Jadi Sorotan, melengkapi kontroversi kartu merah. Kontak yang terjadi dinilai sangat ringan dan serupa dengan banyak insiden di mana Vinicius atau Rodrygo dijatuhkan di kotak penalti tanpa berbuah hadiah penalti.

Penalti kontroversial inilah yang membuka keunggulan Barcelona. Keputusan tersebut diambil tanpa intervensi Video Assistant Referee (VAR), dengan alasan bahwa insiden itu “terbuka untuk interpretasi”. Namun, banyak pihak mempertanyakan konsistensi interpretasi wasit yang terasa berubah-ubah, menguntungkan Barcelona di satu sisi, namun berbeda ketika situasi serupa melibatkan Real Madrid.

Kemarahan Publik di Bernabeu bukan hanya karena dua keputusan kontroversial tersebut, melainkan karena pola yang terasa terus berulang. Di internal Real Madrid, kekecewaan sangat mendalam, melihat insiden ini sebagai contoh terbaru dari masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Klub mempertanyakan mengapa tekel dari belakang terhadap Kylian Mbappe bukan kartu merah, tetapi tekel terhadap Lamine Yamal berbuah kartu merah. Begitu pula, sentuhan terhadap Vinicius di kotak penalti sering tidak dianggap penalti, sementara sentuhan ringan pada Raphinha justru dihukum titik putih.

“Ini bukan cara untuk berkompetisi,” menjadi keluhan yang kerap terdengar dari lingkungan klub. Bahkan, beberapa direktur Real Madrid telah melontarkan kritik keras, menyatakan, “Anda tidak bisa bersaing seperti ini, apa yang satu pihak sebut pelanggaran, penalti, atau kartu merah, di pihak lain, itu bukan…”.

Bayang-bayang Lama yang Tak Hilang turut memperkeruh situasi ini. Di Real Madrid, muncul kembali pertanyaan tentang mengapa pola perlakuan wasit ini terus berulang, padahal Barcelona disebut sudah lama menghentikan pembayaran kepada wakil presiden Komite Teknis Wasit. Sebelumnya, selama 17 tahun, lebih dari 8 juta euro mengalir ke perusahaan pejabat tersebut, konon untuk laporan wasit yang isinya tidak pernah jelas.

Meskipun pembayaran itu telah lama berhenti, Real Madrid masih merasakan ketidakadilan di lapangan. Bukan karena yakin penalti Raphinha atau kartu merah Renato Veiga sepenuhnya salah, melainkan karena insiden serupa tidak pernah diputuskan sama ketika melibatkan tim mereka.

Perbedaan kriteria inilah yang mendorong Real Madrid menuntut perombakan total sistem perwasitan. Selama reformasi itu belum terwujud, kecurigaan dan perasaan tidak adil akan terus menyelimuti kompetisi. Situasi ini bahkan membuat Real Madrid dalam beberapa tahun terakhir cenderung lebih memprioritaskan Liga Champions daripada La Liga, sebuah kompetisi yang nilainya kini semakin dipertanyakan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.