Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, mengungkapkan bahwa pencampuran etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) berpotensi mengurangi kandungan energi dan efisiensi bahan bakar. Pernyataan ini muncul menyusul pembatalan impor BBM base fuel Pertamina oleh sejumlah badan usaha SPBU swasta karena temuan kandungan etanol 3,5 persen.

Fabby menjelaskan, jika BBM dicampur dengan etanol sebanyak 10 persen, konsumsi bahan bakar bisa lebih besar untuk jarak tempuh yang sama. Kandungan etanol dengan jumlah tersebut diperkirakan dapat mengurangi fuel economy sebesar 3 hingga 4 persen. Selain berpotensi membuat bensin lebih boros, Fabby juga memperingatkan adanya risiko korosi pada mesin kendaraan karena sifat etanol yang menyerap air.

Meskipun kandungan etanol 3,5 persen dalam BBM impor Pertamina lebih rendah, Fabby menilai jumlah tersebut kemungkinan tetap berdampak pada pemborosan bensin, meski dampaknya “bisa saja tidak signifikan.”

Sebelumnya, PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) dan APR (joint venture BP-AKR) membatalkan pembelian BBM base fuel dari Pertamina. Alasan utama pembatalan tersebut adalah karena adanya temuan kandungan etanol sebesar 3,5 persen dalam base fuel yang diimpor Pertamina.

Di sisi lain, Fabby juga menjelaskan bahwa sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa justru mewajibkan pencampuran etanol ke dalam BBM. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi intensitas emisi karbon dan emisi gas buang. Pencampuran etanol dalam BBM dapat meningkatkan nilai oktan dan efisiensi pembakaran di motor sehingga gas buang lebih bersih. Sebenarnya, Indonesia telah memiliki aturan penggunaan etanol sebesar 7 persen sejak 2024, namun aturan itu belum berlaku umum karena keterbatasan pasokan etanol.

Menanggapi hal ini, Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penggunaan etanol dalam BBM adalah praktik yang telah diterapkan secara internasional. Langkah ini dianggap sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, sekaligus mendukung transisi energi yang berkelanjutan.

Roberth menambahkan, etanol yang berasal dari tumbuhan seperti tebu atau jagung lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil murni. “Dengan mencampurkan etanol ke dalam BBM, emisi gas buang kendaraan bisa berkurang sehingga kualitas udara lebih baik,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Jumat, 3 Oktober 2025. Fabby Tumiwa sendiri memberikan pernyataannya pada Ahad, 5 Oktober 2025.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.