Padang – Buku “Salam Tubuh pada Bumi” menawarkan sebuah pandangan mendalam tentang etos berkesenian maestro tari Ery Mefri, mengungkapkan filosofi membangun panggung sendiri ketika kesempatan tidak tersedia. Terbit pada 23 Juni 2025, karya ini tidak sekadar biografi, tetapi penelusuran perjalanan spiritual, budaya, dan sosial yang membentuk Ery Mefri sebagai seniman yang teguh dan independen.

Buku tersebut berhasil membedah bagaimana tubuh menjadi media, tafsir, dan pencarian makna bagi seorang seniman.

Dijelaskan bahwa tari bukan hanya bentuk semata, melainkan juga sikap, etika, dan ketundukan pada alam, adat, serta sejarah. Melalui buku ini, kita dapat memahami rahasia di balik kekhasan Ery Mefri dan bagaimana tari Minangkabau bisa mencapai panggung dunia, yang dijawab dengan ketekunan, kesadaran, dan keberanian menciptakan jalan sendiri.

Dalam buku ini turut terekam empat karya tari penting yang menjadi tonggak sejarah Ery Mefri dan kelompok Nan Jombang di kancah internasional. Karya-karya tersebut, yakni “Sarikaik” dan “Rantau Berbisik”, membuka pintu bagi Ery Mefri di jaringan seni pertunjukan global. Kemudian, “Sang Hawa” dan “Tarian Malam” yang lahir dari refleksi perjalanan, dialog lintas budaya, serta perenungan mendalam terhadap eksistensi manusia, sosial, dan spiritualitas perempuan.

Dijelaskan bahwa Ery Mefri tidak sekadar menampilkan karyanya, tetapi juga menyerap pengalaman untuk kemudian mewujudkannya menjadi penciptaan baru.

Setiap karya disebut bukan hasil spontanitas, melainkan dari kontemplasi, keterlibatan emosional, dan keberanian untuk memaknai ulang luka, tradisi, serta perubahan. Bagi Ery, menari adalah cara merawat ingatan, menyuarakan kegelisahan, dan menyampaikan doa yang tidak terucap.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menggambarkan bagaimana lingkungan hidup Ery Mefri, khususnya alam Minangkabau, menjadi inspirasi estetik dan spiritual utama dalam penciptaannya.

Gunung, sawah, kabut pagi, gemuruh air, dan suara angin menyatu dalam diri Ery, tidak sekadar diimitasi, tetapi diresapi dan dilahirkan kembali sebagai gerak yang hidup. Dijelaskan pula bahwa filosofi alam takambang jadi guru menjadi dasar tubuh koreografis yang dibangunnya selama puluhan tahun.

Tekanan sosial dan kesederhanaan yang menempa Ery Mefri juga disoroti sebagai kekuatan transformatif. Lahir dari keterbatasan, ia mengembangkan keberanian untuk tidak bergantung, tidak menunggu, dan tidak mengeluh.

“Orang-orang sederhana dan miskin, dalam keadaan kepepet tetapi kreatif, memang lebih mudah mencari jalan keluar dari kebekuan dan pesimisme,” ujarnya, menegaskan bahwa kreativitas muncul dari krisis dan tekad untuk hidup bermakna. Lingkungan keras justru membentuk disiplin dan ketahanan yang tak tergoyahkan.

Adat dan tubuh budaya Minangkabau juga membentuk Ery Mefri menjadi sosok yang memiliki memori kolektif. Ia menciptakan bukan untuk nostalgia, tetapi untuk menafsirkan ulang nilai-nilai tersebut dalam konteks masa kini dan masa depan. Ruang pertumbuhan komunitas Nan Jombang juga disoroti sebagai tempat berkembang bersama, di mana prinsip membangun panggung sendiri diwujudkan secara nyata dan dapat diwariskan.

Pesan paling kuat yang digaungkan buku ini adalah tentang keteguhan menciptakan ruang sendiri ketika ruang tidak disediakan. Ery Mefri meyakini bahwa menunggu adalah bentuk kematian perlahan bagi seniman. Oleh karena itu, ia membangun panggung, membuat program, mengundang komunitas, bahkan menciptakan tubuh-tubuh baru yang dapat berbicara dalam bahasa budaya sendiri.

“Bagi Ery, tak ada jalan lain. Bila tak diberi kesempatan, maka ciptakan kesempatan itu sendiri,” hal tersebut mendorongnya menembus batas kampung dan tampil di panggung dunia. Bagi generasi muda, buku ini adalah semangat zaman. Di era yang sibuk mengejar validasi digital dan panggung instan, Ery Mefri mengingatkan bahwa karya tidak dibangun dalam semalam, melainkan tumbuh dari kesetiaan, latihan panjang, dan “tubuh yang menunduk dan membaca bumi.” Karya tersebut disebut sebagai ajakan untuk kembali melihat tubuh sebagai ruang belajar, akar sebagai arah, dan kesenian sebagai jalan hidup.

Namun, di balik kekuatan tersebut, terdapat catatan kritis. Buku “Salam Tubuh pada Bumi” belum secara eksplisit menjabarkan metode penciptaan dan pelatihan tubuh yang menjadi dasar pembentukan karya-karya Ery Mefri.

Dosen FBS Universitas Negeri Padang, Koreografer & Pendiri Komunitas Payung Sumatera Dance Theater, Venny Rosalina, menyatakan bahwa publik, terutama kalangan akademik, memiliki ketertarikan besar terhadap proses pembentukan tubuh artistik seperti Angga Mefri dan Rio Mefri, termasuk sistem kerja, pola latihan, atau prinsip pengolahan tubuh yang digunakan.

Menurutnya, dalam konteks pendidikan seni, metode bukan sekadar catatan tambahan, melainkan tulang punggung ilmu dan keberlanjutan pengetahuan seni. Berbeda dengan tokoh-tokoh seperti Tadashi Suzuki, Anne Bogart, atau Rudolf Laban yang berhasil mewariskan sistem berpikir dan metode kerja, Ery Mefri belum mendokumentasikan metodenya.

Venny Rosalina meyakini bahwa metode tersebut ada dan hidup dalam proses, namun belum tertulis secara eksplisit. Ia berharap Ery Mefri atau tim Nan Jombang dapat menyusun modul atau deskripsi metodologis tentang proses kerja, agar jejak penciptaan dapat kuat dalam ranah teori dan pedagogi. Metodologi yang terdokumentasi dengan baik akan memberikan kontribusi besar bagi khazanah metodologi tari Nusantara dan memperkaya pengetahuan mahasiswa seni. Hal ini penting agar warisan ini tidak hanya ditonton, tetapi juga diketahui, dipahami, dan dikembangkan lebih jauh, menjadikan kesenian sebagai sistem pengetahuan yang menginspirasi generasi dan membuka pintu masa depan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.