Jakarta – Kesempatan meraih keuntungan dari dividen interim masih terbuka lebar bagi para investor di awal Januari 2026. Sejumlah emiten telah menjadwalkan periode cum date dividen interim dalam beberapa hari mendatang.
Beberapa emiten besar yang akan membagikan dividen interim termasuk PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM). Keduanya dijadwalkan memiliki cum date pada 2 Januari 2026. BSSR menawarkan dividen interim senilai Rp 127,41 per saham, sementara IPCM sebesar Rp 4,4 per saham.
Selanjutnya, pada 5 Januari 2026, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menjalani cum date dividen interim sebesar Rp 100 per saham. Sehari setelahnya, 6 Januari 2026, giliran PT Eastparc Hotel Tbk (EAST) dan PT Soho Global Health Tbk (SOHO) dengan dividen interim masing-masing Rp 5,6 per saham dan Rp 33,1 per saham.
Pada 7 Januari 2026, PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) akan cum date dividen interim senilai Rp 2,5 per saham. Kemudian, 8 Januari 2026, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) akan menyusul dengan dividen interim masing-masing Rp 1,34 per saham dan Rp 25 per saham.
Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, menilai pembagian dividen interim di awal Januari 2026 menjadi tema menarik. Periode ini bertepatan saat investor menyusun ulang strategi portofolio.
Menurut Hendra, emiten berbasis komoditas dan perbankan besar masih menawarkan daya tarik dividen yield paling kuat. Contohnya, BSSR dengan dividen interim Rp 127,41 per saham berpotensi memberikan yield menarik berkat arus kas yang solid dari sektor batubara sepanjang 2025. Dengan harga saham BSSR Rp 4.020 per saham pada penutupan pasar 30 Desember 2025, potensi dividen interim yield-nya mencapai 3,16%.
Saham RAJA juga layak dicermati. Dividen interim sebesar Rp 25 per saham didukung oleh ekspansi bisnis gas dan energi yang stabil, menawarkan yield menarik untuk sektor energi non-batubara. BMRI pun konsisten dalam menghasilkan laba dan memiliki skala bisnis serta profil risiko yang defensif, menjaga daya saing dividen interimnya bagi investor institusi.
“Sementara itu, emiten seperti IPCM, EAST, GDST, dan CDIA menawarkan yield yang lebih moderat, namun tetap relevan bagi investor yang memburu pendapatan dividen sambil mengincar potensi capital gain jangka pendek,” ungkap Hendra pada Kamis (1/1).
Dari sisi fundamental, Hendra menambahkan, tidak semua emiten pembagi dividen interim memiliki kualitas yang sama. Emiten dengan fundamental paling solid yang membagikan dividen interim di awal Januari 2026 antara lain BMRI, BSSR, dan IPCM.
SOHO dan CDIA lebih cocok untuk pendekatan buy on weakness karena dividen interimnya lebih bersifat tambahan yield. Adapun EAST dan GDST cenderung spekulatif, lebih sesuai untuk investor trading ketimbang konservatif.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyarankan investor yang mengincar dividen yield atraktif untuk memperhatikan saham-saham berkapitalisasi kecil atau menengah. Emiten berkapitalisasi besar atau blue chip umumnya menawarkan dividen yield rendah, sekitar 2% atau di bawahnya. “Dividen pada saham berkapitalisasi besar lebih ditujukan ke investor dengan karakter konservatif dan mengutamakan stabilitas,” kata Nafan.
Bagi investor jangka panjang, prospek kinerja dan fundamental emiten di masa depan lebih penting daripada besaran dividen yield semata. Dividen, menurut Nafan, hanya berfungsi sebagai pemanis atau nilai tambah investasi.
Hendra juga mengingatkan investor agar tidak hanya mengejar dividen interim tanpa melihat valuasi dan tren harga saham. Secara historis, banyak saham mengalami koreksi teknikal setelah periode ex date akibat aksi ambil untung.
Momentum masuk yang ideal bagi pemburu dividen interim adalah saat harga saham melemah menjelang atau sesaat setelah ex date, terutama untuk saham fundamental kuat seperti BMRI, BSSR, dan RAJA. Investor juga perlu membedakan tujuan investasi, apakah berburu dividen jangka pendek atau mengoleksi saham prospek jangka menengah.
Saham-saham bersifat trading seperti IPCM, GDST, dan EAST sebaiknya dilepas saat target teknikal tercapai atau volume melemah pasca-dividen. “Sementara itu, saham dengan fundamental kuat bisa dipertahankan lebih lama selama tren bisnisnya masih positif,” tutup Hendra.
Hendra merekomendasikan trading buy saham BSSR dengan target harga Rp 4.200 per saham, BMRI Rp 5.400 per saham, dan GDST Rp 130 per saham. Saham IPCM dan EAST direkomendasikan speculative buy dengan target harga masing-masing Rp 400 per saham dan Rp 112 per saham. SOHO, RAJA, dan CDIA direkomendasikan buy on weakness dengan target harga masing-masing Rp 1.500 per saham, Rp 6.800 per saham, dan Rp 1.800 per saham.
Nafan sendiri menyarankan beli saham BMRI dengan target harga di level Rp 6.200 per saham.












