Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 38,54 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus ini menjadi yang ke-67 bulan berturut-turut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang membukukan kelebihan 56,15 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 17,61 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, nilai surplus ini naik 9,30 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Informasi ini disampaikan dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).

Total nilai ekspor Indonesia pada Januari-November 2025 mencapai 256,56 miliar dolar AS, tumbuh 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan peningkatan 7,07 persen menjadi 244,75 miliar dolar AS.

Meski demikian, nilai ekspor pada November 2025 secara bulanan tercatat menurun. Angkanya mencapai 22,52 miliar dolar AS, turun 6,60 persen dibandingkan November 2024. Penurunan serupa juga terlihat pada ekspor nonmigas yang melemah 5,09 persen menjadi 21,64 miliar dolar AS.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia selama Januari-November 2025 mencapai 218,02 miliar dolar AS, naik 2,03 persen dari periode yang sama tahun 2024. Kenaikan ini sejalan dengan impor nonmigas yang tumbuh 4,37 persen menjadi 188,61 miliar dolar AS.

Untuk impor bulanan November 2025, nilainya tercatat 19,86 miliar dolar AS, meningkat 0,46 persen dibandingkan November 2024. Namun, impor nonmigas justru mengalami penurunan 1,15 persen menjadi 17 miliar dolar AS pada bulan tersebut.

Dengan perkembangan tersebut, BPS mencatat neraca perdagangan barang Indonesia telah mengalami surplus selama 67 bulan berturut-turut, terhitung sejak Mei 2020 hingga November 2025.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.