Jakarta – Rencana pembagian dividen akhir tahun 2025 dinilai tetap menjadi daya tarik utama bagi investor, terutama dari emiten berkapitalisasi besar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, melihat *dividend yield* dari saham sektor perbankan dan komoditas masih kompetitif di tengah ekspektasi pasar yang lebih positif menuju 2026.
Abida mencontohkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menetapkan dividen interim sebesar Rp137 per saham untuk tahun buku 2025, dengan jadwal pembayaran pada 15 Januari 2026. Menurutnya, imbal hasil dividen dari saham-saham *big caps* tetap menarik sebagai sumber pendapatan stabil, di tengah volatilitas pasar global.
“*Dividend yield* saham perbankan dan komoditas seperti batubara masih atraktif, apalagi di tengah optimisme terhadap pergerakan IHSG 2026,” ujar Abida.
Dari sisi strategi, Abida menyarankan investor menerapkan pendekatan *dividend capture* dengan mencermati tanggal *cum-dividend* agar tetap memperoleh hak dividen. Namun, investor juga perlu mewaspadai potensi *dividend trap* pada hari *ex-dividend*. Ia menilai akumulasi bertahap jauh sebelum *cum-date* menjadi strategi yang lebih optimal untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih rendah.
Selain itu, reinvestasi dividen ke saham-saham dengan fundamental kuat dinilai dapat mempercepat pertumbuhan portofolio jangka panjang melalui efek bunga majemuk.
Terkait prospek pasca pembagian dividen, Abida menilai fundamental emiten-emiten besar masih solid. Meskipun secara teknikal harga saham berpotensi terkoreksi sesaat setelah pembagian dividen, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi.
“Selama emiten mampu menjaga pertumbuhan laba dan efisiensi operasional, koreksi pasca dividen bisa menjadi momentum *buy on weakness*,” katanya.
Ia menambahkan, ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada 2026 serta stabilitas ekonomi makro menjadi faktor pendukung yang menjaga daya tarik saham-saham berdividen tinggi ke depan.











