Padang – Sumatera Barat menghadapi tantangan serius dalam upaya pemulihan pasca-bencana akibat minimnya data yang memadai. Pakar lingkungan dan gempa, Badrul Mustafa, menyoroti bahwa ketiadaan data yang komprehensif dari setiap kabupaten/kota dapat menjadi penghalang utama dalam proses pemulihan yang efektif dan tepat sasaran.
Badrul menyampaikan pada Selasa, 9 Desember 2025, bahwa data yang akurat dan lengkap adalah fondasi penting dalam perencanaan pemulihan pasca-bencana. “Kita bisa saja kehilangan kesempatan memperbaiki jembatan hanyut, ruas jalan terban, atau sarana umum lain yang sangat penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya. Pernyataan tersebut menggarisbawahi betapa krusialnya data yang valid untuk memastikan perbaikan infrastruktur yang tepat.
Menurut Badrul, dampak dari kekurangan data ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah ekonomi yang berkepanjangan. Ia menjelaskan bahwa penyusunan anggaran pemulihan yang didasarkan pada data yang tidak lengkap dapat menyebabkan perbaikan infrastruktur yang tidak optimal, sehingga memperlambat pemulihan ekonomi daerah.
“Kalau pun ekonomi bisa bangkit, prosesnya akan jauh lebih lama, dan masyarakat yang menanggung kesengsaraannya,” ujarnya, menggambarkan konsekuensi yang harus ditanggung masyarakat jika pemulihan berjalan lambat.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan parah pada rumah mereka. Selain kehilangan tempat tinggal, mereka juga kesulitan mengakses transportasi dan layanan publik karena infrastruktur yang belum pulih.
Banjir dan longsor di Sumatera Barat telah menyebabkan kerusakan multidimensi, dan Badrul menekankan bahwa “Jika perbaikan infrastruktur tertunda, penderitaan masyarakat akan berlipat.”
Dalam konteks penanggulangan bencana, Badrul mengingatkan bahwa risiko bencana berbanding lurus dengan tingkat kerentanan. Kerentanan ini meningkat seiring dengan kerusakan infrastruktur. Oleh karena itu, semakin lama kerusakan dibiarkan, semakin besar risiko yang harus ditanggung oleh masyarakat.
Oleh karena itu, percepatan perbaikan infrastruktur menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko, kerentanan, dan meningkatkan kapasitas daerah dalam menghadapi bencana di masa depan. Badrul menegaskan pentingnya data yang akurat sebagai fondasi agar setiap anggaran yang dialokasikan benar-benar memenuhi kebutuhan pemulihan di lapangan.











