Jakarta – Pemerintah terus menggencarkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat dan produktif.
Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hariqo Wibawa Satria, menegaskan bahwa CKG adalah titik awal untuk mewujudkan masyarakat yang terbebas dari penyakit.
“Program CKG itu titik start menuju merdeka dari penyakit. Dari sini masyarakat akan muncul kesadaran untuk terus menjaga kesehatan,” ujar Hariqo dalam keterangan tertulis, Senin (11/8/2025).
Pemerintah menargetkan peningkatan usia harapan hidup melalui CKG. Program ini juga menjadi bahan evaluasi untuk mengukur kemampuan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan dalam melayani masyarakat.
Selain CKG, pemerintah juga menjalankan program prioritas lain seperti Stop TBC, revitalisasi RSUD, dan pemberian tunjangan khusus bagi dokter spesialis di daerah terpencil.
Hariqo menjelaskan, beban penyakit berdampak besar pada ekonomi. Kehilangan produktivitas akibat penyakit mengurangi sekitar 6,5 persen GDP pada 2015 dan diperkirakan meningkat menjadi 7,2 persen pada 2030 jika tidak ditangani.
Kerugian ekonomi akibat rokok mencapai Rp184 triliun hingga Rp410 triliun pada 2019, biaya obesitas sekitar Rp368 triliun, dan hilangnya produktivitas akibat penyakit tropis seperti leptospirosis senilai lebih dari US$ 2,8 miliar per tahun.
Tahun ini, pemerintah menargetkan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di 32 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), dan menyusul 36 RSUD pada tahun 2026.
Presiden Prabowo juga telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2025 tentang Tunjangan Khusus bagi Dokter Spesialis yang bertugas di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Perpres ini sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bekerja di daerah-daerah terpencil.











