Padang – Ketua Umum MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar, mengingatkan masyarakat tentang pentingnya komitmen kebangsaan dan musyawarah dalam bernegara. Ia menegaskan, demonstrasi adalah sarana, bukan tujuan utama.
Pernyataan ini disampaikan Buya Gusrizal dalam refleksi tentang arah kebangsaan di Padang, baru-baru ini.
Buya Gusrizal menyoroti komitmen kebangsaan sebagai perjanjian yang mengikat seluruh bangsa.
“Negara kita ini disebut Dar al-Mîtsâq al-Wathani, artinya negara yang berdiri di atas komitmen kebangsaan,” ujarnya.
Ia menyoroti pergeseran narasi dari musyawarah ke demokrasi liberal. Ia mempertanyakan apakah musyawarah perwakilan sejalan dengan demokrasi.
Buya Gusrizal tidak menolak demonstrasi sebagai cara menyampaikan aspirasi. Namun, ia mengingatkan agar cara tersebut tidak menjadi tujuan utama.
Ia mencontohkan keterbukaan Khalifah Umar bin Khattab terhadap kritik rakyatnya. Menurutnya, menasihati pemimpin bukanlah hal yang haram dalam Islam.
Buya Gusrizal mengaku gelisah dengan fenomena demonstrasi tanpa arah. Ia memahami beban rakyat akibat kenaikan harga dan himpitan ekonomi.
“Beban itu nyata. Maka ketika rakyat menyuarakan pendapat, yang kita harapkan adalah pemerintah jangan memandang demo itu sebagai hal biasa. Dengarkanlah,” tegasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terjerumus dalam arus yang membingungkan. Tujuan penyampaian aspirasi, kata dia, adalah kemaslahatan.
Kepada masyarakat Sumatera Barat, Buya Gusrizal berpesan agar arif dalam membaca situasi dan tidak terbawa arus.
Ia kembali menegaskan bahwa demonstrasi adalah cara, bukan tujuan. Ia berharap masyarakat tidak kehilangan orientasi dan pemerintah tetap peka terhadap suara rakyat.












